KOTA CIREBON, (FC).- Stunting adalah gagal tumbuh diawal kehidupan atau di seribu hari pertama kehidupan, akibat dari infeksi yang mengakibatkan gagal tumbuh di anak.
Hal ini ditandai dengan tinggi badan dan berat badan yang tidak sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan, yang bisa dilihat di Kartu Menuju Sehat (KMS).
Kepala Dinas Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPPAPPKB) Kota Cirebon, Suwarso Budi Winarno mengatakan, pada KMS jika tertera pada grafik berada di garis merah itu tanda-tandanya terjadi stunting pada anak.
“Akibat dari stunting itu, masa pertumbuhan seribu hari pertama anak kalau dia sakit atau kekurangan protein akan mempengaruhi pertumbuhan otaknya,” jelasnya, Rabu (23/8).
Akibatnya lanjut Suwarso, pertumbuhan dan perkembangan akan terhambat dan tidak normal. Sehingga dikhawatirkan akan mengancam pada kemampuan intelektualnya serta kesehatannya dimasa-masa ketika dia dewasa.
Terkait penanganan stunting di Kota Cirebon, Suwarso memaparkan, pihaknya telah membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS ).
“Jadi proses disini ada dua kegiatan, pertama menanggulangi yang sudah stunting dan yang kedua mencegah stunting dengan TPPS,” ungkapnya.
Diingatkan Suwarso, ada perubahan perilaku, dimana sebagian remaja yang calon ayah atau ibu ini mementingkan penampilan. Dengan melakukan diet ketat, yang berakibat bisa kekurangan nutrisi dalam tubuh. Padahal ini bisa berakibat tidak baik bagi calon bayinya kelak.
Pihaknya juga menganjurkan kepada biar remaja putri jangan diet berlebihan. Ubah gaya hidup yang lebih mengutamakan kesehatan. Bila tengah menstruasi, agar mencegah anemia disarankan untuk minum obat penambah darah.
“Kemudian untuk calon pengantin, kita dampingi dengan tim pendamping keluarga. Diperiksa status kesehatannya, bersama puskesmas setempat,” ucapnya.
Masih kata Suwarso, pengantin baru juga dianjurkan menggunakan Aplikasi Aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil (Elsimil). Pada aplikasi ini pengantin bisa langsung mengikutinya apa yang harus dilakukan dan lainnya. sebagainya.
Jadi intinya TPPS di Kota Cirebon secara komprehensif melakukan 8 langkah dalam percepatan penurunan stunting . Dalam bentuk intervensi spesifik maupun intervensi sensitif, berarti langsung kearah stuntingnya. Kalau sensitif itu tidak langsung tapi berpengaruh, misalnya lingkungan, air bersih gaya hidup dan lainnya.
Dibeberkannya, ada sekitar 17 persen angka stunting di Kota Cirebon, ini berdasarkan data stunting yang dikeluarkan Kemenkes. Dari data ini mengalami penurunan angka stunting di Kota Cirebon, yang sebelumnya berada di angka 30,6 persen.
Atas prestasi ini, Pemkot Cirebon mendapat penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat karena berhasil menurunkan prevalensi stunting tahun 2022 dari 30 persen menjadi 17 persen.
Penghargaan diserahkan langsung Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil, kepada Wakil Wali Kota Cirebon Eti Herawati, dalam Rakerda Program Pembangunan Keluarga Kependudukan dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) tingkat Jawa Barat, di Bandung, Selasa (14/2).
Penurunan stunting bukan tanpa kendala, permasalahan perilaku masyarakat dan bagaimana penyampaian edukasi stunting ini juga bisa menjadi kendala.
“Kita edukasi tentang cara mencegah gejala stunting, perubahan perilaku hal-hal sederhana yang bisa di lakukan untuk pencegahan stunting itu. Salah satu nya konsumsi protein hewani untuk balita, kedua tentang gaya hidup nya juga, dalam pengasuhan juga itu keluarga harus terlibat,” terangnya.
Sebagai informasi, ada dia jenis angka stunting, pertama yaitu Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang dilakukan Kemenkes melalui metode sampling secara random.
Yang kedua berdasarkan pelaporan pengukuran yang dilakukan oleh posyandu, yaitu melalui elektronik Pencatatan dan Pelaporan Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), merupakan pencatatan stunting yang dilakukan oleh kader posyandu.
“Berdasarkan prevalensi dan SSGI, pelaporan data stunting yang dilakukan pada Tahun 2023, ada 2.300 balita di Cirebon yang mengalami stunting, dan 800 lainnya yang bukan balita,” pungkasnya. (ppl)














































































































Discussion about this post