KAB. CIREBON, (FC).- Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon salah satu wilayah di timur Kabupaten Cirebon yang menjadi langganan banjir saat musim penghujan. Pemerintah Kabupaten Cirebon pun melalui dinas terkait diminta turun tangan dan mencarikan solusi agar banjir bisa hengkang dari wilayah tersebut. Salah satunya dengan membangun saluran pembuangan menuju irigasi tersier Maneungteung.
Plt Kuwu Gunungsari, Rusnadi, mengaku tahun ini kondisi banjir menjadi terparah dan terlama surut, dalam satu minggu terakhir sudah terjadi 3 kali banjir, dan masuk ke rumah-rumah warga. Beberapa desa yang terkena imbas paling parah adalah Desa Gunungsari dan Desa Mekarsari.
“ Pemdes dan warga hampir bosen melihatnya lantaran baru dibersihkan dari lumpur bEkas banjir sore hari hujan lagi dan malamnya kebajiran lagi,” kata Rusnadi, Kamis (16/4).
Dikatakannya, banjir yang terjadi di Desa Gunungsari maupun Desa Mekarsari dan beberapa desa lainnya di Kecamatan Waled disebabkan luapan sungai Ciberes. Selain itu wilayah Desa Mekarsari dan Gunungsari merupakan dataran rendah. Ketika terjadi hujan lebat maka air dari Bukit Ajimut Desa Waledasem dan beberapa desa lain yang merupakan dataran tinggi mengalir dan menggenang ke Desa Mekarsari dan Desa Gunungsari, sementara saluran pembuangan tidak maksimal.
“Solusinya ketika kami bersama para kuwu di Kecamatan Waled dan Muspika membahas banjir ini adalah bagaimana ada saluran pembuangan alternatif. Ini yang harus dipikirkan dan sebagai solusinya dinas harus turun tangan,”bebernya.
Menurut Rusnadi, soal saluran pembuangan alternatif atau sodetan berdasarkan pantauan para Kuwu dan Muspika saat terjadi banjir, Rabu (15/4) kemarin ada dua alternatif, pertama dibuat sodetan/saluran pembuangan menuju anak sungai Ciberes, namun banyak tanah warga yang akan terkena untuk pembangunan saluran pembuangan tersebut.
Kedua dibuatkan saluran pembuangan menuju saluran irigasi Maneungteung yang ada di Desa Waleddesa atau sepanjang sekitar 1 km, dan hal itu bisa memanfaatkan tanah eks rilban. Dari kedua alternatif yang dibahas tersebut membutuhkan anggaran yang tidak sedikit sehingga perlu adanya campur tangan Pemerintah Kabupaten Cirebon melalui dinas terkaitnya.
“Pemdes Gunungsari sudah menyiapkan lahannya untuk pembuatan saluran pembuangan tersebut, karena anggarannya lumayan besar maka sangat tidak mungkin jika harus dibiayai oleh desa,”tuturnya.
Terpisah, salah seorang warga korban banjir Desa Gunungsari, Kecamatan Waled, Beloy kepada “FC”, Kamis (16/4) memgungkapkan, banjir langganan yang terjadi sudah bertahun-tahun. Awalnya selalu menuding pihak Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWSCC) dengan alasan sungai Ciberes harus dikeruk dan dibuatkan tanggul.
Pada tahun 2017-2018, kata dia, BBWSCC telah mengeruk sungai Ciberes dan membangun tanggul, namun banjir masih tetap terjadi bahkan lebih parah, karena air yang menggenangi pemukiman warga menjadi terlambat mengalir karena terhalang oleh tanggul.
“Setelah ditanggul justru banjir semakin parah, karena air yang membanjiri rumah warga susah mengalir karena saluran pembuangan tertutup tanggul,”ungkapnya.
Menurut Beloy, warga bukan menyalahkan proyek pengerukan sungai dan pembangunan tanggul oleh BBWSCC, tetapi Pemerintah Kabupaten Cirebon seharusnya ikut turun tangan, jangan hanya mengandalkan upaya yang dilakukan BBWSCC. Beloy berharap pada tanggul anak sungai Ciberes ada saluran pembuangan dari pemukiman.
“Keinginan kami (warga) agar dibuat lubang pembuangan yang lebar tetapi diberi klep sehingga air dari sungai ketika banjir tidak masuk ke pemukiman, dan ketika terjadi banjir dipemukiman warga air cepat mengalir ke pembuangan,” harapnya. (Nawawi)


















































































































Discussion about this post