KAB. CIREBON, (FC).- Penataan kawasan wisata religi Makam Sunan Gunung Jati masih terus dirapatkan. Realisasinya menunggu kesiapan semua stakeholder untuk menuntaskan penataan kawasan wisata religi tersebut.
Sekretaris Bappelitbangda Kabupaten Cirebon, Agung Gumilang mengatakan, tahapan sudah dilakukan, seperti pertemuan-pertemuan kecil baik dilakukan di Desa Astana maupun kantor Bappelitbangda.
Menurutnya, rencana penataan sudah dimulai. Yang perlu ditata adalah menunggu kesiapan stakeholder terhadap kesiapan untuk menjadikan wisata religi Makam Sunan Gunung Jati itu terkelola dengan baik.
“Kalau berbicara penataan jalan, trotoar memang perlu, namun yang paling utama adalah soal pengemis yang akan menjadi prioritas kita,” kata Agung melalui sambungan telepon selulernya, Senin (9/10).
Ia mengatakan, pihaknya akan melakukan pemberdayaan – pemberdayaan masyarakat, sehingga pariwisatanya agar terlihat lebih sehat dan manusiawi. “Arahnya ke sana. Namun bertahap. Menunggu kesiapan stakeholder semua,” tambahnya.
Lebih jauh ia mengungkapkan, di lokasi wisata religi yang sama (di tempat lain) tidak terjadi di sana (pengemis berkeliaran), namun di Kabupaten Cirebon kelihatannya perlu ada penataan yang lebih baik.
“Pokoknya target menunggu waktu dari stakeholder. .akin cepat makin baik, akhir tahun ingin sudah kelihatan, agar wisatawan domestik maupun luar itu kalau berkunjung ke wisata religi Gunung Jati tidak direpotin seperti ditarik-tarik tangganya oleh pengemis, kemudian keropak amal bisa dikelola dengan profesional,” kata Agung.
Menurutnya, filosofi Kanjeng Sunan “ingsun titip tajug lan fakir miskin” itu harus dimaknai dengan proporsional. Kata dia, kemiskinan itu ada, namun pihaknya akan terus tekan. “Bukan berarti adanya kemiskinan kita harus mengemis. Fakir miskin dipelihara oleh negara artinya diberdayakan, dinaik kelaskan,” tandasnya.
Diberitakan sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Cirebon berencana akan melakukan penataan kawasan wisata religi Makam Sunan Gunung Jati yang berada di Desa Astana, Kecamatan Gunungjati.
Hal tersebut dilakukan lantaran adanya temuan dari mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang sedang melakukan Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM). Temuan mahasiswa tersebut yakni terdapat banyak pengemis dan gelandangan. Untuk menindaklanjuti temuan tersebut, Pemkab Cirebon melalui Bappelitbangda, Dinas Sosial dan Satpol PP langsung mengadakan rapat untuk membahas kawasan Makam Sunan Gunung Jati.
Kasie Oprasional Pengendalian (Opsdal) pada Satpol PP Kabupaten Cirebon, Wisma Wijaya mengatakan, Pemkab Cirebon akan melakulan penataan kawasan wisata religi Makam Sunan Gunung Jati Cirebon.
Menurut Wisma, saat rapat koordinasi, Bappelitbangda akan melalukan penataan mulai dari trotoar yang ada di kawasan Makam Sunan Gunung Jati. “Karena PKL yang carut marut, Bappelitbangda akan melakukan penataan trotoar agar PKL liar tidak berjualan di area tersebut. Dan itu semua usulan dari Pemdes setempat,” kata Wisama, Kamis (5/10).
Disinggung soal PKL liar dan Pengemis Gelandangan dan Orang Terlantar (PGOT), kata Wisma, pihaknya kapan pun siap melakukan penertiban. Pasalnya Satpol PP hanya bisa mengamankan.
“Nanti kita koordinasi dengan Dinsos terkait PGOT, karena kami hanya mengamankan, nantinya PGOT tersebut dikemanakan itu ranahnya Dinas Sosial,” katanya.
Ia mengungkapkan, untuk waktu kapan untuk melakukan penertiban di kawasan wisata religi Makam Sunan Gunung Jati, pihaknya menunggu perintah saja. “Geraknya menunggu dari Bappelitbangda dan Dinas Sosial. Kami Satpol PP selalu siap kapanpun,” ungkapnya. (Ghofar)



















































































































Discussion about this post