KUNINGAN, (FC).- Puncak peringatan Hari Pendidikan di Kabupaten Kuningan ditutup dengan agenda Rembuk Daerah Bidang Pendidikan Dengan tema Kuningan Menuju Kabupaten Pendidikan.
Agenda berupa Diskusi panel tersebut mengambil judul akselerasi kuningan menuju Kabupaten Kuningan 2025.
Bupati Kuningan Acep Purnama menyampaikan abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia, yang dengan sendirinya meminta SDM berkualitas dihasilkan oleh lembaga-lembaga yang dikelola secara profesional sehingga membuahkan hasil yang unggulan untuk membangun komitmen bersama memajukan Kabupaten Kuningan.
“Salah satu ciri yang paling menonjol adalah semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi diantaranya menjadi semakin cepat,” kata Acep.
Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan, lanjut Acep, telah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor ruang dan waktu yang selama ini menjadi aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia menyikapi hal tersebut.
“Tentunya dibutuhkan kerja keras dari semua pihak, bersama-sama menyampaikan pemikiran, ide, gagasan dan terobosan dalam upaya pendidikan mewujudkan yang relevan kondisi dengan tuntutan zaman,” ungkap Acep.
Rembuk daerah bidang Pendidikan dan Kebudayaan di kabupaten kuningan, lanjut Acep, harus menjadi ruang yang sangat terbuka bagi seluruh stakeholder untuk berekspresi dan berkolaborasi mengawal satu misi untuk kemajuan pendidikan di kabupaten kuningan.
“Rembuk daerah kali ini juga dirasa semakin mengarah kepada hal yang lebih operasional dengan disusunnya buku yang telah berjudul “Kabupaten Pendidikan” (rencana induk pembangunan pendidikan di kabupaten kuningan). Yang memuat tentang kondisi eksisting pendidikan di Kabupaten Kuningan. Dengan memahami kondisi riil pendidikan di kabupaten ini mudah-mudahan seluruh stakeholders yang hadir pada kegiatan ini, akan memahami dan menyesuaikan arah dan tahapan yang nanti akan tertuang dalam bentuk rekomendasi sebagai hasil panen gagasan dari kegiatan ini,” papar Acep.
Abad ke-21, disebutkan Acep, baru berjalan satu dekade, namun dalam dunia pendidikan sudah dirasakan adanya pergeseran, dan bahkan perubahan yang bersifat mendasar pada tataran filsafat, arah serta tujuannya.
Disebutkan Acep, salah satu indikator dari diskusi ini yaitu literasi digital. literasi digital sangat diperlukan dalam penggunaan teknologi. Hal ini berkaitan dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi sebijak mungkin demi menciptakan interaksi komunikasi yang positif.
Karena dalam ber-teknologi informasi, sudah barang tentu menghadapi tantangan yaitu Bagaimana menyikapi arus informasi yang banyak. artinya, pengakses/ individu akan terlalu banyak menerima informasi di saat yang bersamaan. dalam hal ini lah literasi digital berperan, yakni untuk mencari, menemukan, memilah serta memahami informasi yang benar dan tepat.
Kemudian, masih Acep, Konten negatif. contohnya konten pornografi, isu sara dan lainnya. kemampuan individu dalam mengakses internet, khususnya teknologi informasi dan komunikasi harus dibarengi dengan literasi digital. sehingga individu bisa mengetahui, mana konten yang positif dan bermanfaat serta mana konten negatif.
“Tantangan tersebut di atas lah yang harus mendapatkan perhatian lebih. terutama kaitannya dengan siswa-siswi yang masih rentan terkena efek negatif dari ber-teknologi informasi. di satu sisi, dasar yang paling menonjol adalah semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi diantaranya menjadi semakin cepat,” jelas Acep.
Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan, dikatakan Acep, telah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor ruang dan waktu yang selama ini menjadi aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia. tapi di sisi lain, efek negatif nya cukup menakutkan untuk perkembangan karakter siswa-siswi kita.
Semoga dengan diangkatnya isu literasi digital ini, maka ada formulasi untuk bagaimana bisa menanamkan netiquette (etika dalam berkomunikasi lewat internet) pada siswa-siswi kita dalam ber-teknologi informasi.
“Mudah-mudahan kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan pendidikan di Kabupaten Kuningan,” ungkap Acep.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kuningan, H. Uca Somantri menyampaikanbahwa peserta pada kegiatan diskusi panel ini diikuti unsur akademisi, organisasi keagamaan, Pgri, Dewan Pendidikan Sekolah, Penilik, Pamong Budaya, Mahasiswa, Kepala SKPD Terkait, Perwakilan Guru Praktisi Pendidikan, dan unsur lainnya.
“Tujuan Rembukda ini berkenaan dengan tujuan menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme bagi seluruh insan dalam bidang pendidikan, pemerintahan, swasta dan masyarakat luas untuk meningkatkan pendidikan, untuk akselerasi Kuningan Menuju Kabupaten Pendidikan Tahun 2025, dan membangun sinergitas dengan semua pihak untuk Kuningan menuju Kabupaten Pendidikan,” ungkap Uca.
Materi diskusi, lanjut Uca, didasarkan pada beberapa isu strategis diantaranya Literasi Digital, Merdeka Belajar (Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak), Grand Desain Kuningan Menuju Kabupaten Pendidikan, Membangun Pendidikan Karakter Siswa Dalam Digitalisasi dan Pendidikan dalam perspektif Agama.
“Materi atau isu-isu di atas akan dipaparkan oleh beberapa narasumber diantaranya Oleh Sekda Kuningan, Rektor ITB, Rektor UPI, Rektor Uniku, Ketua STKIP Muhammadiyah, Rektor Unisa, Ketua PD Muhammadiyah dan Ketua PC Nahdlatul Ulama (NU),” kata Uca. (Ali)















































































































Discussion about this post