KUNINGAN, (FC).- Ada resep turun – temurun bagi peternak sapi untuk menjaga daya tahan tubuh hewan sapi, terlebih adanya wabah Penyakit Mulut dan Kaki (PMK) yang mulai mengganas di Kabupaten Kuningan.
Seperti dilakukan peternak sapi di Desa Cipakem Kecamatan Meleber, bisa disebut sebagai jamu dengan bahan alami yang diberikan ke hewan yang mereka pelihara saat ini.
Resepnya sangat sederhana, yaitu menggunakan daun sirih wangi dan abu dari kayu bakar. sebelum meracik ramuan, peternak mencari daun sirih wangi dan mencabut hingga akar – akarnya. setelah itu daun sirih wangi itu digeprek pada bagian tunasnya. Setelah itu diikat agar mudah dimasukan dalam panci rebusan.
Sedangkan proses merebusnya sendiri menggunakan kayu bakar, sambil menunggu air mendidih, persiapan dilakukan para peternak mulai dari membersihkan daun sirih wangi dari kotoran tanah, kemudian menggeprek dan mengikat.
Usai air mendidih, sirih wangi dimasukan kedalam panci dan tidak menunggu lama abu dan kayu bakar yang ada di bawah panci langsung dimasukan kedalam panci diaduk menjadi satu dengan sirih wangi tersebut.
Sambil menunggu dingin air rebusan, peternak juga disibukan dengan memberi makan hewan sapi tersebut, dan setelah itu tubuh sapi mulai dibalur dengan ramuan jamu tersebut, sesudah itu air juga diminumkan sebanyak satu botol kecil air mineral.
Menurut pemilik peternakan sapi di Desa Cipakem, Diding Wahyudin bahwa ramuan tersebut sudah digunakannya selama 14 tahun lamanya, karena sudah resep turun – temurun di Desa Cipakem.
“Namanya jamu cuka lebu, ini dibuat dari bakaran kayu dan daun sirih wangi, seperti yang tadi dilihat, jamu ini selain diminumkan juga untuk membalur tubuh sapi,” kata Diding, Selasa (31/5).
Bagi Diding jamu Cuka Lebu ini terbukti bisa meningkatkan daya tahan tubuh sapi, sehingga bisa meminimalisir penyakit apapun yang bisa menyerang kesehatan sapi.
“Alhamdulilah dengan jamu cuka lebu itu efektif sekali, kita sudah mempraktekkan selama 14 tahun ini. kalau masyarakat sendiri ini sudah jadi budaya para petani di desa cipakem,” ujar Diding.
Diding yang memiliki 120 ekor sapi di kandangnya itu mengaku situasi wabah PMK membuat dirinya waspada, maka dia tidak pernah lepas koordinasi dengan dinas terkait sehingga wilayahnya bebas dari kasus PMK.
“Ya mungkin salah satunya terbantu dengan jamu tadi, karena sebulan sekali kita berikan jamu, sehingga ketika ada pemeriksaan sapi – sapi kita sehat semua,” ujar Diding,
Jenis sapi yang dimiliki, Diding menyebutkan diantaranya Sapi limosin, simental, pegon, PO dan lokal dengan bobot rata-rata dari 250 kilogram hingga 750 kilogram. sedangkan strategi lainnya selain menjaga kebesihan kandang sapi, untuk meningkatkan daya tahan tubuh yaitu memberi makan sapi lebih.
“Pakan kita lebihkan, hingga sapi benar – benar kenyang itu juga strategi meningkatkan daya tahan tubuh,” ungkap Diding.
Bagi Diding adanya wabah PMK ini proses lalu lintas pengirimanan hewan ternaknya tetap berjalan, karena adanya surat sehat dari dinas terkait, sehingga dia merasa tenang untuk melakukan pengiriman baik di kuningan maupun luar kuningan seperti cirebon hingga bogor maupun Jakarta. (Ali)















































































































Discussion about this post