KOTA CIREBON, (FC).– Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), telah memprediksi musim kemarau Tahun 2026 ini lebih kering dibanding perkiraan sebelumnya.
Menurut Prakirawan BMKG Kertajati, Duan Anggraeni, untuk curah hujan di wilayah Cirebon dan sekitarnya diperkirakan jauh di bawah kondisi normal.
“Karena itu, potensi kekeringan tahun ini disebut akan meningkat dibanding prediksi yang disampaikan pada awal tahun,” ucapnya, Kamis (2/7) saat Rapat Koordinasi Antisipasi El Nino dan Musim Kemarau 2026 yang digelar Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.
Sementara itu, Kabid Ops dan Pemeliharaan BBWS Cimanuk Cisanggarung, Martius, mengatakan musim kemarau mulai berlangsung pada Juli. Namun dampak yang lebih besar diperkirakan terjadi saat memasuki puncak kemarau pada September mendatang.
“Curah hujan juga diprediksi berada jauh di bawah kondisi normal,” tambahnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena saat ini sebagian wilayah Cirebon Raya sedang memasuki Musim Tanam (MT) II. Pada periode itu kebutuhan air irigasi relatif tinggi untuk mendukung pertumbuhan tanaman padi dan komoditas pertanian lainnya.
Menghadapi potensi kemarau yang lebih kering, BBWS Cimanuk Cisanggarung telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak pertengahan Juni 2026. Salah satunya dengan mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kekurangan air, baik dari sumber air permukaan maupun air tanah.
BBWS juga mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air melalui pengaturan operasi waduk dan situ. Monitoring serta pembaruan alokasi air dilakukan setiap hari secara real time untuk memastikan distribusi air tetap sesuai kebutuhan di lapangan.
Pada sektor pertanian, pengaturan pola tanam dan jadwal tanam turut dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan air selama musim kemarau.
“Selain itu, berbagai peralatan disiagakan, mulai mobil tangki air, mobil pompa, pompa air bergerak hingga pompa tenaga surya,’ katanya.
BBWS juga menyiapkan sumur bor dan pompa tambahan sebagai sumber pasokan alternatif apabila terjadi kekurangan air di sejumlah wilayah.
“Kalau ada laporan daerah yang berpotensi mengalami kekeringan, baik untuk irigasi maupun kebutuhan air bersih, kami akan tindak lanjuti dan kaji untuk menentukan langkah penanganannya,” kata Martius.
Upaya lainnya dilakukan melalui rehabilitasi jaringan irigasi pada Tahun Anggaran 2026 melalui program Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025. Perbaikan dilakukan pada jaringan irigasi air permukaan maupun jaringan irigasi air tanah guna meningkatkan efisiensi distribusi air ke lahan pertanian.
Meski ancaman kekeringan meningkat, kondisi sumber air utama di wilayah Cirebon Raya saat ini masih relatif aman.
Di tempat yang sama, Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan BBWS Cimanuk Cisanggarung, Hendra Kurniawan, mengatakan pengelolaan waduk telah dimaksimalkan sejak awal. Pengaturan dilakukan pada Bendungan Jatigede, Waduk Dharma, dan Bendungan Cipanas yang menjadi penopang utama pasokan air bagi daerah irigasi di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan.
Perhatian utama diarahkan pada Daerah Irigasi Rentang yang merupakan salah satu daerah irigasi terbesar di wilayah kerja BBWS Cimanuk Cisanggarung dan bergantung pada pasokan dari Bendungan Jatigede. Kondisinya masih aman, karena volume tampungan seluruh waduk masih berada di atas kondisi normal.
“Berdasarkan perhitungan operasi waduk dan rencana tata tanam yang telah disusun, ketersediaan air masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan irigasi selama MT II berlangsung. Hingga awal Juli 2026, BBWS Cimanuk Cisanggarung juga belum menerima laporan kekeringan maupun permintaan bantuan air bersih dari kawasan permukiman,” tandasnya. (Agus)










































































































Discussion about this post