KAB.CIREBON, (FC).- Sejumlah nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, memilih menghentikan sementara aktivitas melaut akibat hasil tangkapan yang terus merosot.
Pendapatan yang diperoleh dinilai tak lagi mampu menutup tingginya biaya operasional, sehingga banyak nelayan justru terjerat utang setiap kali berangkat ke laut.
Ketua Nelayan Citemu, Sutirno, mengatakan kondisi tersebut paling dirasakan nelayan pengguna jaring kejer, jaring garok, dan jaring wuwu yang membutuhkan biaya tambahan untuk membeli umpan.
Menurutnya, hasil tangkapan rajungan dalam beberapa pekan terakhir turun drastis. Bahkan, dalam satu kali melaut, nelayan terkadang hanya mampu membawa pulang dua ekor rajungan.
“Kalau hasilnya hanya dua ekor rajungan, jelas tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan. Kondisi ini membuat banyak nelayan memilih berhenti melaut sementara,” ujarnya, Selasa (30/6).
Ia menjelaskan, di tengah minimnya hasil tangkapan, harga berbagai kebutuhan melaut justru terus meningkat.
Harga rajungan hidup untuk kebutuhan umpan kini berkisar Rp120 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram, naik tajam dibanding sebelumnya yang hanya sekitar Rp50 ribu per kilogram.
Sementara harga daging rajungan olahan telah mencapai sekitar Rp400 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut semakin membebani nelayan karena biaya operasional setiap kali melaut juga tidak sedikit.
Untuk satu perahu yang diawaki lima orang, kebutuhan solar dan biaya operasional lainnya sedikitnya mencapai Rp300 ribu dalam sekali berangkat.
Ironisnya, hasil penjualan tangkapan kerap hanya berkisar Rp50 ribu karena jumlah rajungan yang diperoleh sangat sedikit.
Akibat kondisi itu, nelayan Citemu mengenal istilah “nendo”, yakni keadaan ketika hasil melaut tidak mampu menutup biaya operasional sehingga nelayan harus terus menambah utang untuk kembali melaut.
“Kalau dipaksakan berangkat, bukan untung yang didapat, tetapi justru menambah utang. Itulah yang kami sebut nendo,” katanya.
Sutirno menambahkan, sambil menunggu musim rajungan kembali tiba, sebagian besar nelayan memilih memanfaatkan waktu untuk ngiteng, yakni memperbaiki jaring yang rusak serta melakukan perawatan perahu agar siap digunakan ketika kondisi laut kembali produktif.
Ia berharap musim tangkapan rajungan segera membaik sehingga nelayan dapat kembali melaut dan memperoleh penghasilan yang layak.
“Kami berharap musim rajungan segera datang agar hasil tangkapan kembali meningkat dan ekonomi nelayan bisa pulih,” pungkasnya. (Nawawi)












































































































Discussion about this post