KAB.CIREBON, (FC).- Mari Sejahterakan Petani Indonesia memperingati hari jadinya yang ke-10 pada 25 April 2026 dengan mengusung tema Bertani, Berdaulat Pangan untuk Ketahanan Negara.
Peringatan satu dekade tersebut dipusatkan melalui kegiatan tanam benih padi MSP di lahan pertanian Desa Sukadana, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Cirebon, Sabtu (25/4).
Momentum tersebut menjadi refleksi perjalanan organisasi sekaligus penegasan peran strategis petani sebagai pilar utama dalam menjaga kedaulatan bangsa di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan ketahanan pangan.
Selama satu dekade terakhir, MSP Indonesia konsisten mendampingi petani melalui pengembangan benih unggul dan penerapan pola tanam berkelanjutan guna meningkatkan produktivitas pertanian.
Ketua Umum MSP Indonesia, Bambang Mujiarto, mengatakan sektor pangan kini memiliki posisi strategis dalam menjaga ketahanan negara.
“Pangan hari ini bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi sudah menjadi senjata strategis dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik,” ujarnya.
Ia menegaskan, kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari aspek pertahanan militer, tetapi juga kemampuan memenuhi kebutuhan pangan rakyat secara mandiri.
“Ketahanan negara tidak cukup diukur dari kekuatan militer, tetapi dari kemampuan memberi makan rakyatnya secara mandiri,” katanya.
Peringatan HUT ke-10 MSP Indonesia juga diisi sejumlah agenda strategis, di antaranya sarasehan nasional petani yang mempertemukan praktisi, akademisi, dan pembuat kebijakan guna membahas persoalan distribusi serta harga pangan.
Selain itu, digelar pelatihan inovasi pertanian dengan menampilkan benih unggul adaptif terhadap lahan kering dan cuaca ekstrem, serta pelatihan perbanyakan agen hayati paenibacillus polymyxa.
MSP juga memberikan penghargaan kepada para pejuang pangan, yakni petani inspiratif yang dinilai berhasil mengembangkan digitalisasi pertanian di tingkat desa.
Dalam sambutannya, Bambang kembali menegaskan pentingnya kemandirian pangan sebagai fondasi kedaulatan bangsa.
“Kita tidak bisa bicara pertahanan negara jika kebutuhan pangan masih bergantung pada impor. Berdaulat pangan berarti petani berhak menentukan apa yang mereka tanam dan hidup sejahtera dari hasilnya,” ungkapnya.
Memasuki dekade kedua, MSP Indonesia berkomitmen memperluas edukasi teknologi pertanian atau Agri-Tech hingga ke wilayah pelosok. Langkah tersebut diharapkan mampu menarik minat generasi muda, khususnya milenial dan Gen Z, untuk terjun ke sektor pertanian.
“Pertanian bukan sektor yang tertinggal, tetapi sektor masa depan yang menjanjikan secara ekonomi sekaligus mulia secara pengabdian,” tambahnya.
MSP juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, swasta, hingga konsumen, untuk mendukung produk petani lokal sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Adapun komitmen strategis MSP meliputi penguatan kemandirian input pertanian melalui riset varietas lokal, menjaga stabilitas pasokan pangan nasional guna menekan inflasi, serta mendorong modernisasi pertanian berbasis teknologi.
Perayaan satu dekade tersebut diharapkan menjadi momentum penguatan kebijakan pangan nasional agar semakin berpihak kepada petani lokal. (Nawawi)










































































































Discussion about this post