KOTA CIREBON, (FC).- Seluruh petani di wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung (Cimancis) dengan total lahan sekitar 6.600 hektare bila secara serentak menanam padi dengan metode Irigasi Padi Hemat Air (IPHA) hasil inivasi BBWS Cimancis, akan mampu menghemat air hingga 34 juta kubik.
Hal itu disampaikan Kepala BBWS Cimancis, Dwi Agus Kuncoro.
Dwi Agus mengatakan, menjelang musim tanam kedua (MT2) dan MT3, BBWS Cimancis kian gencar memperkuat infrastruktur dan menerapkan inovasi teknologi ramah lingkungan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan iklim dan keterbatasan air.
Menurutnya bahwa berbagai evaluasi dan persiapan telah dilakukan, tidak hanya dari sisi teknis tapi juga sosial.
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah alat pertanian berbasis tenaga surya dan aki charger.
“Alat ini dirancang untuk membantu proses penanaman dan penyilangan gulma, terutama di lahan-lahan yang kekurangan genangan air. Dengan memanfaatkan sinar matahari, petani tak perlu lagi bergantung pada bahan bakar minyak,” jelas Dwi Agus, Senin (26/5).
Dijelaskannya, tekhnologi ini tak hanya efisien secara energi, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan praktis di area persawahan.
BBWS juga mendorong penerapan sistem tanam IPHA yang dinilai cocok untuk menghadapi kondisi iklim yang tak menentu.
Dijelaskannya, bila seluruh petani bisa menggunakan metode IPHA maka dari luas lahan areal pertanian yang ada di bawah kendali BBWS Cimancis sekitar 6.400 hektare itu bisa menghemat air srkitar 34 juta kubik bendungan.
Kalau melihat ketersedian air di salah satu bendungan di kuningan itu mampu mrnampung ketersediaan air sebesar 25 juta kubik, maka metode IPHA bisa menghemat satu bendungan dalam satu kali musim tanam.
“Konsistensi dalam budidaya dan adopsi teknologi pertanian modern menjadi kunci hasil panen yang optimal,” ujarnya.
Dari sisi infrastruktur, BBWS telah melakukan inventarisasi saluran irigasi di Majalengka dan Cirebon.
Pembersihan saluran dari tumpukan material dan edukasi pemanfaatan pompa air menjadi perhatian utama.
“Kami terus memberikan arahan agar penggunaan pompa tidak merusak tebing saluran. Ini penting untuk menjaga keberlanjutan fungsi irigasi,” kata Dwi.
Saat ini, BBWS mengandalkan sembilan bendungan utama sebagai tulang punggung suplai air.
Delapan di antaranya telah beroperasi, seperti Bendungan Malahayu, Sedong, Situ Patok, hingga Jatigede.
Sementara Bendungan Cipanas masih dalam proses sertifikasi, namun telah melayani 6.400 hektare lahan di Cipanas 1 dan 2.
“Volume air di enam bendungan saat ini cukup tinggi, sementara dua lainnya masih butuh tambahan tampungan. Kami berharap curah hujan di masa transisi ini bisa menggenapi kebutuhan hingga 90 persen,” ungkapnya.
Selain fokus pada pertanian dan irigasi, BBWS juga mendukung penataan kawasan sungai di wilayah perkotaan.
Salah satunya Sungai Kali di Kota Cirebon yang direncanakan menjadi area river garden oleh Wali Kota.
“Kami siap mendukung setelah proses edukasi dan urusan sosial selesai. Tujuannya agar sungai tidak hanya bersih, tapi juga menjadi ikon kota,” tutur Dwi.
Adapun perbaikan terasering dan irigasi di daerah perbukitan seperti Beringin dan Singaraja juga tengah dipercepat.
Penggunaan pipa fleksibel berbahan HDPE dipilih untuk mengantisipasi potensi pergeseran tanah, dengan target rampung dalam dua minggu ke depan. (Agus)



















































































































Discussion about this post