Dikarenakan kondisi air yang tidak pasti ketika di siang hari, warga umumnya mengambil air ketika waktu dini hari diantara waktu 3-4 pagi. Untuk mandi dan cuci bajupun warga sering melakukannya di sumur langsung.
“Kalau untuk mandi dan cuci baju langsung di sumur itu juga jam 5 pagi setelah menimba air. Soalnya biar hemat tenaga dan sumber air langsung mudah didapat daripada diharuskan untuk bolak balik rumah menimba, karena yang dirumah untuk kebutuhan lain,” ujarnya.
Meskipun, saat ini kondisi masih terbilang aman dalam artian cukup untuk kebutuhan, Siti pun khawatir. Pasalnya, jika terjadi musim kemarau panjang warga perlu turun ke dalam sumur dengan membawa ember untuk mengambil air di dasar.
“Ya, gimana lagi mau ga mau ada orang yang perlu turun ke dasar membawa ember kalau-kalau sumurnya dalam,” ucapnya dengan nada lesu.
Sebab, dari lima sumur yang tersedia tiga diantaranya memiliki kedalaman 25 dan dua sisanya hanya dua meter. Untuk, kebutuhan minum dan masak sendiri warga jarang gunakan air sumur karena kondisi air yg terkadang berwarna atau asin.
Adapun, harapan warga setempat adalah bantuan dari pemerintah berupa selang kecil untuk menyalurkan air dari masjid ke rumah-rumah warga.(Sarrah/job/FC)

















































































































Discussion about this post