KAB. CIREBON, (FC).- Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sedikitnya ada lebih dari 81 ribu jiwa masyarakat Kabupaten Cirebon masuk ke dalam kategori miskin ektrem. Dengan jumlah tersebut, Kabupaten Cirebon menjadi daerah dengan angka kemiskinan ekstrem tertinggi di Jawa Barat dari 27 Kota/ Kabupaten.
Sementara untuk wilayah Kecamatan Lemahabang menduduki peringkat 3 di Kabupaten Cirebon setelah Kecamatan Greged dan Kecamatan Depok, dengan jumlah angka kemiskinan sebanyak 3.820 keluarga.
Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Cirebon, Wahyu Tjiptaningsih saat melakukan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Penanggulangan Kemiskinan di pendopo kantor Kecamatan Lemahabang, Selasa (26/9).
Wabup menyampaikan, monitoring ini dilakukan dalam upaya Pemkab Cirebon menekan angka kemiskinan ektrem di wilayahnya.
Pihaknya juga menjelaskan, kemiskinan ektrem di Kabupaten Cirebon didominasi masyarakat yang pendapatan atau pengeluarannya perharinya sekitar Rp10.000.
Lanjut Ayu, kategori miskin ektrem kebanyakan adalah, lansia, ODGJ, anak yatim piatu di bawah umur, dan penyandang disabilitas yang tidak bisa bekerja.
Dan mereka tidak memiliki Administrasi Kependudukan (Adminduk) sehingga mereka tidak pernah mendapatkan berbagai bantuan.
“Makanya kami lakukan monitoring dan validasi di Kecamatan Lemahabang ini, untuk menginventalisir data kemiskinan maupun permasalahan permasalahannya, salah satunya terkait Adminduk,” terang Ayu.
Dalam kesempatan tersebut, Ayu menyebut, angka kemiskinan ektrem di Kecamatan Lemahabang masih cukup tinggi, sedikitnya ada sebanyak 3.830 jiwa, dan berada diurutan ketiga tertinggi di Kabupaten Cirebon.
Sementara, lanjut Ayu untuk angka kemiskinan ektrem tertinggi di Kabupaten Cirebon terdapat di wilayah Kecamatan Greged dengan jumlah angka kemiskinan sekitar 4 ribu jiwa, kemudian disusul Kecamatan Depok berada diurutan ke dua.
“Maka dari itu, kami mendorong kuwu khususnya di Kecamatan Lemahabang ini untuk lebih pro aktif dalam permasalahannya, sehingga dapat menurunkan angka kemiskinan ektrem di wilayahnya,” harap Ayu.
Pemkab terus berupaya bagaimana angka kemiskinan ektrem bisa menurun, salah satunya dengan menurunkan biaya pengeluaran, meningkatkan pendapatan, mengintervensi kantong-kantong kemiskinan di daerah.
Selain itu bagi masyarakat miskin ekstrem yang masih produktif, nantinya akan diberikan pelatihan pelatihan sesuai dengan minat dan bakat mereka, sehingga mereka tidak sekedar berharap bantuan dari pemerintah.
“Dengan harapan di tahun 2024 Kabupaten menjadi zero kemiskinan ektrem, sesuai dengan yang di instruksikan oleh Bapak Jokowi Widodo,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekmat Lemahabang, Martin Bhutto menyampaikan, jumlah warga miskin ektrem di wilayah Kecamatan Lemahabang tersebut merupakan data yang lama.
Pihaknya, saat ini masih terus berupaya melakukan verifikasi data dan permasalahannya di masing masing-masing desa, dengan harapan nantinya mendapatkan data yang benar benar valid.
Dirinya pun mendorong pemerintah desa untuk memperbanyak kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bersumber dari Dana Desa (DD) agar keluarga miskin ekstrem bisa menurun.
Selain itu Pemkab Cirebon juga menganggarkan dari lintas dinas untuk penanganan kemiskinan di Kabupaten Cirebon diangka sekitar Rp750 miliar, diluar bantuan sosial yang seperti biaaanya disalurkan.
“Kami berharap upaya tersebut dapat menurunkan angka kemiskinan ektrem maupun angka stunting di wilayah Kecamatan Lemahabang,” pungkasnya. (Nawawi)















































































































Discussion about this post