KUNINGAN, (FC).- Keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Ihya, sekarang Unisa, menebar puluhan botol sabun cair ke masjid dan musala. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebersihan di tengah wabah Covid-19.
Selain oleh alumni, donasi itu diikuti kader HMI Universitas Islam Al-Ihya termasuk distribusi barang yang berhasil dikumpulkannya. Setiap masjid dan musala yang ditarget menerima masing-masing satu botol sabun cair yang layak untuk cuci tangan jemaah masjid.
“Untuk saat ini kami sebar sabun supaya jamaah yang akan salat atau ke masjid bisa cuci tangan memakai sabun dan bebas virus,” kata koordinator lapangan donasi, Yudi Pramudita, Senin (6/4)
Menurutnya, memilih menebar sabun sebagai alat cuci tangan dikarenakan banyak donasi yang sudah dilakukan para relawan atau warga Kuningan. Upaya itu dilakukan sesuai kesepakatan beberapa alumni dan kader yang sempat berkomunikasi mengingat pentingnya ketersediaan alat kesehatan di masjid atau musala.
“Awalnya mau bagi-bagi masker, tapi karena kami berpikir banyak yang melakukan itu, maka kami menebar sabun untuk cuci tangan,” tuturnya.
Yudi yang saat itu di dampingi Ketua HMI Komisariat Al-Ihya, Asep Mausul berharap, donasi yang sedikit berhasil dikumpulkan bisa memberi sumbangsih terutama ketersediaan alat cuci tangan di masjid dan musola. Sehingga, jemaah masjid bisa melaksanakan protokol kesehatan demi menghindari penyebaran virus Corona yang sampai saat ini menghawatirkan semua lapisan masyarakat.
“Kebersihan sebagian dari iman. Mudah-mudahan dengan keimanan yang baik bisa memutus penyebaran virus,” tuturnya.
Yudi menegaskan, cuci tangan yang dilakukan dalam menangkal virus Corona harus dimaknai lebih, dibanding cuci tangan pada hari-hari biasa. Menurutnya, cuci tangan saat genting kali ini harus dilakukan lahir bathin supaya baik secara lahiriah maupun batiniah benar-benar melakukan penyucian diri dari segala hal yang kotor atau najis.
“Cuci tangan memiliki banyak arti. Tidak hanya membersihkan kotoran dalam arti virus secara lahiriah, tetapi juga harus membersihkan kotoran batin yaitu membersihkan ulah tangan atau kekuasaan yang cenderung merusak tatanan kehidupan,” terangnya.
Yudi menegaskan, sebagaimana didengungkan oleh para ulama di berbagai belahan penjuru dunia, penyebaran virus kali ini harus disikapi atau ditanggapi dengan muhasabah diri dari segala bentuk kelalaian hidup. Perbaikan-perbaikan tingkah laku harus dilakukan sebagai bentuk pertaubatan kepada yang pemilik seluruh alam beserta isinya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
“Cuci tangan jangan sebatas mencuci lahir, tapi harus tembus sampai relung-relung bathin. Upaya lahiriah ini hanya sebagai siloka atau simbol yang harus direnungkan, karena saat ini banyak ulah tangan manusia yang kotor dan merusak,” pungkasnya. (Sopandi)











































































































Discussion about this post