KOTA CIREBON, (FC).- Lebih dari 80 persen cadangan rotan di dunia berada di Indonesia. Karena itu, Indonesia memiliki peran strategis dalam industri rotan dan memiliki potensi besar menjadi raja furnitur rotan global.
Ketua Dewan Pembina Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Ir. Soenoto menilai, peluang tersebut hanya dapat terwujud apabila komoditas rotan tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan baku, melainkan diolah menjadi produk furnitur bernilai tambah.
Demikian dikatakannya, saat menghadiri pembukaan Furniture Bootcamp Batch 2 yang diselenggarakan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) di Kota Cirebon, Senin (13/7).
Menurutnya, kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia harus menjadi modal utama untuk membangun industri manufaktur furnitur yang kuat, berdaya saing, dan mampu menguasai pasar internasional.
“Soal rotan, Indonesia adalah pemilik terbesar di dunia. Sekitar 85 sampai 90 persen rotan dunia berasal dari Indonesia. Ini merupakan sebuah domination value atau nilai dominasi yang seharusnya menjadi kesempatan emas bagi Indonesia untuk merajai industri furnitur rotan dunia,” ujarnya.
Soenoto menegaskan, dominasi bahan baku tersebut seharusnya tidak dimanfaatkan untuk memperbesar ekspor rotan mentah. Sebaliknya, Indonesia harus menjadikan keunggulan itu sebagai kekuatan untuk memperbesar ekspor produk furnitur jadi yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Menurutnya, orientasi ekspor harus bergeser dari menjual bahan mentah menjadi menjual produk yang telah melalui proses manufaktur.
“Saya selalu mengatakan, mengekspor bahan baku adalah sebuah tindakan yang haram. Yang halal itu adalah mengekspor produk jadinya. Dengan begitu kita memperoleh devisa yang lebih besar, menyerap lebih banyak tenaga kerja, sekaligus menciptakan nilai tambah bagi bangsa,” tegasnya.
Ia menilai, ekspor bahan baku hanya memberikan keuntungan sesaat tanpa memberikan dampak maksimal terhadap pertumbuhan industri nasional. Bahkan, praktik tersebut dinilai tidak mampu mendorong penguatan karakter bangsa sebagai negara produsen yang memiliki daya saing tinggi.
Sebaliknya, industri furnitur mampu menciptakan efek berganda yang besar, mulai dari membuka lapangan pekerjaan, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, hingga memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri furnitur global.
Karena itu, Soenoto mengapresiasi penyelenggaraan Furniture Bootcamp HIMKI yang dinilai menjadi salah satu langkah strategis dalam mencetak pelaku industri furnitur dan kerajinan yang lebih kompeten.
Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis para peserta, tetapi juga membangun pola pikir bisnis yang modern dan profesional.
“Bootcamp ini bertujuan mencetak produsen furnitur dan kerajinan yang produktif, efisien, dan profesional. Profesionalisme hari ini sudah menjadi tuntutan dunia. Mulai dari cara mengelola bisnis, kemampuan desain, komunikasi dengan pembeli, hingga tata kelola perusahaan. Siapa yang tidak profesional, pasti akan tertinggal,” katanya.
Ia menjelaskan, gagasan penyelenggaraan bootcamp tersebut sebenarnya telah lama dirancang HIMKI sebagai upaya meningkatkan kualitas pelaku industri mebel Indonesia agar mampu bersaing di pasar global.
Selain peningkatan kapasitas sumber daya manusia, Soenoto juga menyoroti masih adanya kekhawatiran terhadap keluarnya rotan Indonesia ke luar negeri dalam bentuk bahan baku, termasuk melalui jalur penyelundupan.
Menurutnya, meskipun data ekspor bahan baku tidak selalu terlihat secara terbuka, keberadaan rotan Indonesia yang melimpah di berbagai negara menjadi sinyal yang patut diwaspadai.
“Kita harus benar-benar menjaga agar jangan sampai ada satu batang pun rotan yang diselundupkan ke luar negeri. Yang boleh keluar dari Indonesia adalah furniturnya, bukan bahan bakunya,” tandasnya. (Agus)









































































































Discussion about this post