KAB. CIREBON, (FC),- Suhu politik semakin memanas jelang pelaksanaan pemilihan kuwu (pilwu) serentak Desa Serang Wetan Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon, dan yang sangat disayangkan Puskesos Desa Serang Wetan dijadikan alat black campaign.
Hal ini diduga dilakukan oleh kandidat kuwu dengan menyebar pemberitaan bohong untuk menghantam salah satu bakal calon kuwu lainnya.
Puskesos Fasilitator Desa Serang Wetan, Yadi Suwardi, kepada FC, Kamis (18/11) mengungkapkan, dirinya sangat menyayangkan ulah oknum yang membuat berita bohong dan menyebarkannya melalui medsos.
Padahal belum pernah melakukan klarifikasi langsung kepada dirinya, atas pemberitaan bohong atau hoax tersebut.
Dalam informasi tersebut, dirinya disudutkan, dengan difitnah telah melakukan penggiringan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Guna memilih kepada salah satu calon kuwu.
Padahal, menurutnya, jangankan sampai ke arah seperti itu, banyaknya tuntutan masyarakat yang telah didaftarkan ke Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), namun tak kunjung masuk sebagai menerima bantuan saja, sudah pusing mengurusnya.
“Sangat disayangkan berita hoax yang menjadikan Puskesos sebagai alat melakukan black campaign. Apalagi tidak jelas siapa narasumber yang mengatakan hal itu, secara pribadi saya tidak mempersoalkan karena saya tidak merasa melakukan apa yang dituduhkan itu, tapi Puskesos dan desa jelas sangat dirugikan karena telah dicemarkan dengan informasi hoax tersebut,” jelasnya.
Ditambahkan Yadi, yang juga sebagai wakil ketua Panitia Pemilihan kuwu Serentak (PPS), juga sangat menyayangkan ulah oknum tersebut yang sengaja dilontarkan sebagai alat black campaign menjelang pelaksanaan pilwu digelar, dan tidak berfikir dampaknya terhadap kondusifitas ditengah masyarakat,.
Padahal seharusnya harus saling menjaga, agar pelaksanaan pilwu berjalan kondusif, sukses tanpa ekses, para calon kuwu juga harus berkampanye kiat kebaikan dan program yang baik.
Agar mendapat simpati masyarakat bukan saling menjatuhkan, apalagi dengan cara-cara memfitnah yang jelas ada calon lain yang dirugikan.
“Kalau pola-pola kurang baik apalagi memfitnah dan masyarakat tahu, kalau hal itu bohong, yang ada bukan simpati tetapi yang ada illfeel ke sang calon,” terangnya.
Sementara perwakilan KPM, Rudin mengungkapkan, suasana politik seharusnya berhati-hati dalam melontarkan kalimat.
Apalagi sampai menimbulkan fitnah, apa yang dikatakan KPM yang tak jelas siapa namanya mengatakan ada ajakan puskesos.
Untuk menggiring memilih salah seorang calon itu tidak benar, dirinya bersama KPM lain tidak pernah merasa ada tekanan dari puskesos, apalagi informasi hoax tersebut disebar lewat medsos sebagai alat black campaign terhadap salah satu calon kuwu.
Menurutnya, yang dirinya tahu bahwa puskesos hanya melakukan pendataan untuk input ke DTKS, dan bila masuk sebagai penerima bantuan, puskesos hanya memberikan kartu ATM untuk KPM dan selanjutnya antara KPM dan e-waroong.
“Kita sudah lama mendapatkan bantuan, kenapa baru sekarang ada isu yang kurang enak dontarkan menjelang pelaksanaan pilwu, saya pastikan informasi itu bohong dan fitnah,” terangnya diamini KPM lainnya. (Nawawi).











































































































Discussion about this post