KUNINGAN, (FC).- Pendidikan di masa pandemi Covid-19 mengalami hambatan serius. Termasuk kegiatan di Bulan Ramadhan, lembaga pendidikan terpaksa harus memantau pendidikan para siswanya yang terpaksa belajar dari rumah masing-masing.
Seperti dilakukan lembaga pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Persatuan Umat Islam (MI-PUI II) Cipari Kuningan. Walaupun ada jarak yang memisahkan antara guru dan muridnya, proses pendidikan tetap dilakukan dengan cara pemantauan melalui jaringan internet. Hal itu diungkapkan kepala MI PUI, Muhammad Nurdin, di sela aktivitasnya, Selasa (5/5).
“Untuk mengisi aktivitas Ramadhan setiap wali kelas dan guru memberikan tugas keagamaan, seperti tadarus, hapalan doa dan surat pendek, praktek sholat lima waktu dan tarawih, dan lain sebagainya. Setiap aktivitas mereka didampingi orang tua dan dikirim videonya kepada guru atau wali kelas,” kata Nurdin.
Bersama para guru dan tenaga kependidikan, lanjut dia, pihaknya terus melakukan inovasi supaya jarak yang memisahkan antara lembaga pendidikan dan siswanya bisa disiasati dengan baik dan menarik. Menurutnya, upaya itu dilakukan supaya belajar di rumah para siswanya tidak membosankan dan tidak menjadi beban.
“Masa pandemi ini sudah hampir dua bulan, kami yakin kondisi ini berpengaruh kepada kejiwaan siswa. Maka kami dan para guru terus berupaya kerja keras berinovasi dan kreatif supaya siswa bisa belajar di rumah dengan senang menyenangkan tanpa ada beban,” tuturnya.
Khusus mengenai Ramadhan, dia menerangkan, tugas yang diberikan kepada siswa tidak jauh berbeda dengan aktivitas Ramadhan sebelumnya. Beragam tugas kegiatan keagamaan disampaikan oleh guru melalui orang tua siswa supaya dilakukan oleh setiap anak didik. Aktivitas keagamaan tersebut dilakukan di rumah masing-masing dengan tetap mengikuti protokoler kesehatan penanggulangan Covid-19.
“Tugas ini kami berikan dalam rangka pembiasaan. Walaupun kami tidak mendampingi langsung sebagaimana mestinya, tetapi inti atau tujuan kegiatan rutin ini tidak terlewatkan meski dibatas oleh jarak,” tuturnya.
Adapun layanan pembelajaran dari rumah yang digunakan para guru di madrasah itu meliputi WA Grup, atau pesan pribadi antara siswa dan muridnya. Bahkan, untuk kelas atas ada beberapa guru yang menggunakan aplikasi quzizi, google, dan layanan lainnya. Menurutnya, karena siswa madrasah merupakan warga kota, aktivitas belajar online tersebut tidak mengalami gangguan serius.
“Untuk jaringan internet dan alat komunikasi tidak mengalami hambatan serius. Selain siswa kaki merupakan warga kota yang dekat dengan jaringan, hampir rata-rata orang tua siswa juga sudah menggunakan HP dengan sistem android,” terangnya.
“Hambatan memang ada salah satunya tidak semua guru atau orang tua menguasai IT. Tapi bagi guru yang di sekitar rumahnya ada siswa kami, mereka memonitor langsung dor to dor,” kata Nurdin.
Mengingat aktivitas pembelajaran secara online sangat tidak efektif, pihaknya berharap wabah Corona segera berakhir. Pihaknya merindukan suasana riang anak didik yang beraktivitas tanpa ada sekat, baik antara guru dan murid maupun antar sesama murid. (Sopandi)












































































































Discussion about this post