KOTA CIREBON, (FC).- Kekayaan kuliner lokal Jawa Barat terus berkembang dengan berbagai inovasi. Namun, di tengah pesatnya persaingan pasar digital, sejumlah pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan dalam memperluas pemasaran produknya.
Hal itu dialami oleh dua pelaku UMKM kuliner, yakni Kerupuk Tulang Ayam Az-Zahra asal Kota Cirebon dan Rempeyek Dua Jagoan dari Kabupaten Majalengka. Meski memiliki produk unggulan, legalitas usaha, serta cita rasa yang mampu bersaing, keduanya masih terkendala dalam pemanfaatan pemasaran digital.
Kerupuk Tulang Ayam Az-Zahra milik Wati yang berlokasi di Jalan Kalibaru Utara, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, hadir dengan konsep inovatif memanfaatkan tulang sisa sate ayam sebagai bahan olahan makanan ringan.
Bagi Wati, tulang ayam bukan sekadar limbah, melainkan bahan yang masih memiliki nilai manfaat karena mengandung sejumlah nutrisi seperti kalsium, fosfor, dan kolagen yang baik bagi tubuh.
Produk kerupuk tersebut dipasarkan dengan harga terjangkau, mulai Rp2.000 hingga Rp7.000 per kemasan. Namun, pemasaran yang masih terbatas membuat produk tersebut belum banyak dikenal masyarakat di luar wilayah Cirebon.
Sementara itu, di Kabupaten Majalengka, Ucih melalui UMKM Rempeyek Dua Jagoan berupaya mempertahankan cita rasa rempeyek tradisional yang renyah dan gurih. Berlokasi di Kecamatan Cigasong, produk tersebut mengandalkan resep khas rumahan yang diwariskan sekaligus dikembangkan sebagai sumber ekonomi keluarga.
Meski memiliki karakter produk berbeda, kedua UMKM tersebut menghadapi persoalan serupa, yakni masih mengandalkan pemasaran konvensional melalui jaringan sekitar dan sistem titip jual di warung.
“Kami sudah punya produk yang enak dan legal, tapi pemasarannya masih terbatas di lingkungan sekitar,” ungkap Wati dan Ucih.
Berdasarkan hasil observasi mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ), salah satu kendala utama kedua UMKM tersebut adalah belum optimalnya pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi.
Padahal, platform digital seperti Instagram, TikTok, Facebook, dan WhatsApp Business dapat menjadi media efektif untuk memperluas jangkauan pasar dengan biaya yang relatif rendah.
Minimnya aktivitas promosi digital membuat tingkat pengenalan merek kedua produk tersebut masih terbatas. Padahal, dengan strategi pemasaran digital yang tepat, peluang memperluas pasar dan meningkatkan penjualan masih sangat terbuka.
Melalui tugas mata kuliah Kewirausahaan, mahasiswa UGJ melakukan pendampingan langsung kepada kedua pelaku UMKM tersebut.
Kelompok pertama yang terdiri dari Azizah Nur Sofiyani dan Lela Marsellia mendampingi Wati dalam mengoptimalkan penggunaan WhatsApp Business, mulai dari pembuatan katalog produk hingga pemanfaatan fitur promosi melalui status WhatsApp.
Sementara kelompok kedua yang beranggotakan Dwiana Candra Gumilar dan Hidayatullah Akbar membantu Ucih mengaktifkan akun Facebook bisnis dengan konten yang lebih menarik serta mengubah WhatsApp pribadi menjadi WhatsApp Business.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan pelaku UMKM dalam memanfaatkan teknologi digital untuk mendukung perkembangan usaha.
Wati dan Ucih berharap produk mereka tidak hanya dikenal di daerah masing-masing, tetapi dapat berkembang menjadi oleh-oleh khas Jawa Barat yang mampu menjangkau pasar lebih luas melalui dunia digital.
Kegiatan survei dan pendampingan tersebut dilaksanakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewirausahaan dengan dosen pengampu Lisa Hary Sulistiyowati, S.E., M.M. Kegiatan dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Manajemen UGJ, yakni Azizah Nur Sofiyani, Lela Marsellia, Dwiana Candra Gumilar, dan Hidayatullah Akbar, di bawah bimbingan dosen pendamping Ramlah Puji Astuti, S.E., M.Si. (Rls/FC)






































































































Discussion about this post