KOTA CIREBON, (FC).– Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung menyiapkan sejumlah langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 guna menjaga ketersediaan air baku dan irigasi di wilayah kerjanya.
Upaya tersebut dibahas dalam rapat koordinasi kesiapsiagaan yang digelar di Kantor BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Kamis (2/7).
Rapat diikuti perwakilan pemerintah kabupaten/kota, Bappeda, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Pertanian, PDAM, BMKG Provinsi Jawa Barat, serta insan media.
Pertemuan itu bertujuan memperkuat sinergi lintas sektor dalam mengantisipasi potensi kekeringan selama musim kemarau.
Dalam pemaparannya, perwakilan BMKG Provinsi Jawa Barat, Yoga, menyampaikan hasil pemantauan Dasarian II Juni 2026 menunjukkan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada angka -0,298 dengan indeks bulanan -0,56. Meskipun telah melewati ambang normal, kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai fenomena IOD negatif karena baru berlangsung selama satu bulan.
Di sisi lain, anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 tercatat mencapai +1,61 dengan indeks bulanan +1,00 yang mengindikasikan berkembangnya fenomena El Nino.
BMKG memprediksi pengaruh El Nino akan semakin menguat pada periode Juli hingga September 2026 dan berpotensi menurunkan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
Berdasarkan prakiraan BMKG, curah hujan selama Juli hingga September 2026 diperkirakan berada pada kategori rendah, berkisar 0 hingga 100 milimeter per bulan dengan sifat hujan di bawah normal.
Sekitar 48 persen wilayah Jawa Barat diprediksi mengalami penurunan curah hujan, dengan cakupan yang semakin meluas pada Agustus.
“Informasi iklim ini menjadi dasar penting dalam menyusun langkah mitigasi untuk menjaga ketersediaan air serta mengurangi dampak kekeringan,” ujar Yoga.
Sementara itu, Kepala Bidang Operasi BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Martius, memastikan pihaknya telah menyiapkan berbagai strategi guna mengantisipasi dampak musim kemarau di wilayah yang meliputi delapan kabupaten/kota.
Menurutnya, BBWS Cimanuk-Cisanggarung saat ini mengelola sembilan bendungan yang sebagian besar masih memiliki kapasitas tampungan air di atas 65 persen.
Kondisi tersebut dinilai masih cukup aman untuk memenuhi kebutuhan air baku masyarakat maupun irigasi pertanian apabila dikelola secara optimal.
“Kondisi tampungan bendungan saat ini masih cukup aman untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi selama musim kemarau,” katanya.
Martius menjelaskan, sejumlah langkah telah disiapkan, mulai dari pengaturan distribusi air irigasi, optimalisasi suplai air dari bendungan, penyediaan pompa air dan pompa bertenaga surya, mobil tangki air, pembangunan sumur bor, hingga penyiapan personel yang siap merespons laporan kekeringan dari pemerintah daerah.
Selain itu, BBWS juga melakukan pemantauan harian terhadap kondisi bendungan dan jaringan irigasi serta memperkuat koordinasi dengan seluruh pemerintah daerah dan instansi terkait agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara cepat dan terukur.
“Kami siap memberikan dukungan melalui distribusi air, bantuan pompa maupun pendampingan teknis sehingga kebutuhan air masyarakat dan sektor pertanian tetap terpenuhi selama musim kemarau,” tegas Martius. (Nawawi)











































































































Discussion about this post