KOTA CIREBON, (FC).- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Jawa Barat menetapkan wilayah Cirebon sebagai salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian khusus dalam menghadapi potensi kekeringan pada puncak musim kemarau 2026.
Ancaman tersebut diperkirakan meningkat pada Agustus hingga September seiring menurunnya curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Barat.
Peringatan itu disampaikan perwakilan BMKG Jawa Barat, Yoga, saat Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Musim Kemarau 2026 yang digelar di Kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, Kamis (2/7).
Menurut Yoga, prakiraan BMKG menunjukkan curah hujan selama tiga bulan ke depan secara umum berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh menguatnya musim kemarau yang diperkirakan berdampak terhadap ketersediaan air di sejumlah daerah.
“Curah hujan selama tiga bulan ke depan secara umum diperkirakan berada pada kategori rendah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, meski sebagian wilayah selatan Jawa Barat masih berpeluang menerima curah hujan lebih tinggi, sebagian besar wilayah lainnya diprediksi mengalami penurunan intensitas hujan.
Memasuki Agustus hingga September, kondisi tersebut diperkirakan semakin menguat sehingga risiko kekeringan ikut meningkat.
Karena itu, BMKG meminta pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan menyiapkan langkah antisipasi sejak dini, terutama untuk menjaga pasokan air bersih, mendukung sektor pertanian, serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air.
“Memasuki Agustus hingga September, potensi kekeringan akan semakin meningkat dan perlu menjadi perhatian bersama,” katanya.
Berdasarkan hasil analisis BMKG, wilayah selatan Jawa Barat lebih dahulu mengalami kondisi agak kering hingga kering jika dibandingkan dengan kondisi klimatologis normal.
Sementara itu, wilayah utara, termasuk Cirebon, masih berada pada kategori normal, namun tetap berpotensi mengalami kekeringan apabila tren penurunan curah hujan terus berlanjut.
“Wilayah utara masih relatif normal, tetapi tetap harus diantisipasi apabila curah hujan terus menurun,” jelas Yoga.
BMKG mencatat sejumlah daerah yang perlu menjadi prioritas mitigasi selama musim kemarau, di antaranya Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon bagian utara, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Majalengka bagian utara, serta beberapa wilayah lain yang memiliki potensi terdampak kekeringan.
Yoga menambahkan, hasil analisis dan pemetaan potensi kekeringan tersebut akan disampaikan kepada pemerintah daerah dan instansi terkait sebagai acuan dalam menyusun strategi mitigasi serta memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026.
“Data analisis ini diharapkan menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi sehingga dampak kekeringan dapat ditekan semaksimal mungkin,” pungkasnya. (Nawawi)











































































































Discussion about this post