KAB.CIREBON, (FC).- Sosok Pangeran Sutajaya atau yang dikenal sebagai Pangeran Gebang tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Cirebon Timur.
Jejak pengaruhnya tidak hanya tersimpan dalam tradisi lisan dan naskah babad, tetapi juga terekam dalam arsip Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang menunjukkan peran strategisnya dalam percaturan politik Jawa pada abad ke-17.
Sejarawan dan akademisi, Tendi, mengatakan Pangeran Sutajaya merupakan figur sejarah yang keberadaannya dapat ditelusuri melalui berbagai sumber, baik lokal maupun kolonial.
“Pangeran Sutajaya bukan hanya hidup dalam cerita rakyat, tetapi juga memiliki jejak historis yang dapat dibuktikan melalui sejumlah sumber sejarah,” ujarnya, Selasa (2/6).
Dalam tradisi Kepangeranan Gebang, Pangeran Sutajaya disebut sebagai keturunan Kesultanan Cirebon dan putra Panembahan Wirasuta.
Ia dikenal sebagai tokoh yang membuka kawasan Alas Roban, sebuah wilayah hutan yang kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan dan permukiman yang menjadi cikal bakal Gebang.
Menurut Tendi, pembukaan Alas Roban menjadi tonggak awal lahirnya kekuasaan lokal yang kelak berkembang menjadi salah satu pusat pengaruh penting di kawasan timur Cirebon.
Sementara dalam Naskah Babad Sutajaya, tokoh tersebut digambarkan sebagai bangsawan Cirebon yang memperoleh wilayah kekuasaan melalui kemampuan politik, militer, dan spiritual.
Kajian filologis terhadap naskah itu menunjukkan Pangeran Sutajaya diposisikan sebagai pemimpin ideal yang memiliki kewibawaan serta loyalitas kuat terhadap Cirebon.
“Dalam babad, ia digambarkan sebagai pemimpin yang kuat dan memiliki legitimasi politik yang besar,” katanya.
Keberadaan Pangeran Sutajaya semakin diperkuat oleh arsip VOC pada akhir abad ke-17.
Dalam sejumlah dokumen kolonial, nama Pangeran Gebang disebut sebagai penguasa lokal yang memiliki hubungan politik dengan VOC dan mengendalikan wilayah cukup luas di kawasan timur Cirebon.
Catatan tersebut menjadi salah satu bukti penting bahwa Pangeran Sutajaya merupakan tokoh historis yang benar-benar eksis, bukan sekadar figur legenda dalam tradisi masyarakat.
“Arsip VOC menunjukkan bahwa Pangeran Gebang merupakan penguasa regional yang diperhitungkan pada masanya,” ujar Tendi.
Tradisi masyarakat juga mengaitkan sosok Pangeran Sutajaya dengan berdirinya Keraton Gebang.
Keraton lama dipercaya pernah menjadi basis logistik dalam konflik antara Kesultanan Mataram dan VOC.
Setelah mengalami kerusakan, keturunannya membangun kompleks baru yang kini dikenal sebagai Keraton Gebang atau Keraton Elang Gajah.
Hingga saat ini, keraton tersebut masih menjadi simbol penting perjalanan sejarah dan identitas budaya masyarakat Gebang.
Berdasarkan kajian terhadap arsip VOC dan Naskah Babad Sutajaya, wilayah pengaruh Kepangeranan Gebang diperkirakan membentang dari pesisir utara Laut Jawa hingga kawasan Sungai Cijolang yang berbatasan dengan wilayah Galuh di bagian selatan.
Kekuasaan tersebut meliputi wilayah yang kini berada di Kecamatan Gebang, Losari, Pabedilan, Babakan, Waled, Ciledug, Karangsembung, Karangwareng, Lemahabang, sebagian timur Kabupaten Kuningan hingga kawasan perbatasan Galuh.
Meski demikian, Tendi mengingatkan bahwa konsep wilayah kekuasaan pada abad ke-17 berbeda dengan batas administratif modern.
Sistem politik saat itu menganut pola mandala, yakni wilayah inti yang dikuasai langsung serta daerah-daerah bawahan yang memberikan loyalitas dan upeti kepada penguasa.
“Pada masa itu ukuran kekuasaan lebih ditentukan oleh pengaruh politik dibandingkan batas administratif seperti sekarang,” jelasnya.
Wilayah inti Kepangeranan Gebang diperkirakan meliputi kawasan Gebang, Gebang Ilir, Gebang Kulon, Kalipasung, Melakasari, Dompyong hingga daerah pesisir timur Cirebon menuju Losari.
Sejumlah peneliti menilai Gebang pada masa Pangeran Sutajaya merupakan salah satu kekuatan politik lokal terbesar di kawasan Cirebon Timur.
Bahkan dalam sejumlah arsip VOC, Pangeran Gebang disebut memiliki posisi strategis dalam dinamika politik Jawa bagian barat.
“Jejak sejarah yang tersimpan dalam arsip menunjukkan bahwa Gebang pernah menjadi kekuatan regional yang sangat berpengaruh di Cirebon Timur,” tegas Tendi.
Kajian mengenai Pangeran Sutajaya sekaligus memperlihatkan besarnya peran Gebang dalam perkembangan politik, pemerintahan, dan kebudayaan di kawasan timur Cirebon. Warisan sejarah tersebut hingga kini masih menjadi bagian penting dari identitas masyarakat setempat. (Nawawi)











































































































Discussion about this post