KUNINGAN, (FC).- Derasnya aliran air yang menerjang ruas Jalan Palutungan–Cigugur dalam beberapa hari terakhir dinilai bukan sekadar dampak hujan deras, melainkan indikasi menurunnya daya resap alam di kawasan lereng Gunung Ciremai.
Aktivis Masyarakat Peduli Kuningan, Yudi Setiadi, menyebut fenomena tersebut menjadi peringatan serius terhadap kondisi ekologis kawasan hulu yang mulai mengalami tekanan lingkungan.
“Derasnya air dari kawasan hulu menunjukkan kemampuan tanah menyerap air mulai menurun. Ini harus menjadi perhatian bersama,” ujar Yudi, Senin (18/5).
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan pihak Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) perlu segera melakukan mitigasi serta kajian ekologis menyeluruh untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Ia menilai kawasan Gunung Ciremai sebagai daerah resapan air utama di wilayah Ciayumajakuning kini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim dan meningkatnya intensitas cuaca ekstrem.
Yudi mengungkapkan sejumlah indikasi kerusakan lingkungan mulai terlihat, seperti berkurangnya daya serap lahan, terganggunya debit mata air, hingga menurunnya produktivitas pertanian masyarakat di sekitar kawasan lereng gunung.
Selain itu, fenomena matinya ikan dewa di kawasan konservasi TNGC juga disebut menjadi salah satu tanda terganggunya kualitas ekosistem air di wilayah tersebut.
“Kalau kondisi kawasan hulu terus menurun, masyarakat bukan hanya menghadapi ancaman banjir dan longsor saat musim hujan, tetapi juga potensi krisis air saat musim kemarau,” katanya.
Yudi juga menyinggung hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait aktivitas tektonik dan vulkanik purba di kawasan Lingkar Timur Kuningan. Menurutnya, temuan tersebut memperkuat pentingnya pemetaan kerawanan bencana berbasis kajian ilmiah.
Ia meminta pemerintah tidak menunggu terjadinya bencana besar sebelum mengambil langkah penanganan lingkungan secara serius.
“Mitigasi harus dilakukan sejak dini dengan melibatkan pemerintah, akademisi, pegiat lingkungan, dan masyarakat,” ujarnya.
Yudi berharap upaya pelestarian kawasan resapan air di lereng Gunung Ciremai dapat menjadi prioritas guna menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus melindungi masyarakat dari potensi bencana hidrometeorologi. (Angga)












































































































Discussion about this post