MAJALENGKA, (FC),- Puluhan warga dan tokoh masyarakat Desa Maja Utara, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka mendatangi Balai Desa pada Senin (24/11) sore kemarin.
Mereka meminta penjelasan Pemerintah Desa terkait penebangan pohon besar yang selama ini menjadi ikon desa di area lapangan sepak bola.
Warga menilai penebangan dua dari empat pohon dilakukan tanpa musyawarah dan tanpa pemberitahuan kepada tokoh maupun masyarakat.
Selain merusak estetika dan karakter desa, mereka juga mempertanyakan transparansi hasil penjualan kayu yang disebut bernilai sekitar Rp 30 juta.
Tokoh masyarakat Nurulhuda menilai Pemerintah Desa Maja Utara tidak membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat sebelum mengambil keputusan.
“Pemdes tidak pernah mengajak dialog atau memberi tahu akan adanya penebangan pohon tersebut,” ujarnya.
Di luar persoalan penebangan, warga yang lainnya juga menyoroti masalah serius terkait pengelolaan keuangan desa. Bendahara Desa Maja Utara disebut telah menghilang lebih dari satu bulan dan diduga membawa kabur dana desa. Warga menilai Kepala Desa kurang tegas dalam menindaklanjuti kasus tersebut.
Masyarakat mempertanyakan kemana hasil penjualan kayu mengalir dan siapa yang bertanggung jawab atas pencatatannya.
“Kami ingin tahu uang itu masuk ke mana. Apakah ke bendahara lama yang menghilang atau ke kas desa. Tidak ada rincian yang disampaikan,” ungkap salah satu warga yang mengaku bernama Abidin.
Sementara itu Kepala Desa Maja Utara, Didi Juhadi, menyatakan bahwa penebangan pohon telah dihentikan.
“Penebangan kayu besar di pinggir lapangan Maja Utara kami hentikan. Dari empat pohon besar, dua sudah terlanjur ditebang. Kami akan melakukan reklamasi dan menanam pohon berukuran besar untuk menggantikannya,” katanya.
Namun saat ditanya mengenai keberadaan bendahara desa dan dugaan penyalahgunaan dana, Didi Juhadi bungkam dan tidak bersedia memberikan penjelasan tambahan.
Warga berharap Pemerintah Desa Maja Utara, segera menyelesaikan persoalan internal dan membuka laporan penggunaan dana secara transparan. Mereka menilai kejelasan informasi penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. (Munadi)















































































































Discussion about this post