KUNINGAN, (FC).- Suasana Gedung Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kuningan berubah menjadi ruang dialektika yang hidup ketika kader-kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkumpul dalam ajang Debat Gagasan Calon Ketua Cabang dan Ketua Kopri, Jumat malam (7/11).
Dengan mengusung tema “Meneguhkan Spirit Pergerakan untuk Membangun Kuningan yang Berdaya dan Berintegritas,” forum ini menjadi wadah intelektual bagi kader muda untuk berbicara tentang arah masa depan pergerakan.
Debat tersebut tidak hanya menghadirkan adu retorika, melainkan memperlihatkan bagaimana semangat kritis dan idealisme mahasiswa masih hidup di tengah perubahan zaman.
Para calon tampil percaya diri, menyampaikan visi yang berakar pada nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, mulai dari isu kaderisasi, kemandirian organisasi, hingga kontribusi PMII terhadap pembangunan daerah.
Ketua BPK PMII Kuningan, Kirom, menyebut bahwa debat gagasan ini merupakan bentuk nyata dari proses kaderisasi yang sehat.
“Debat ini bukan panggung pencitraan, tapi ruang untuk menguji visi dan arah gerak calon pemimpin. PMII harus melahirkan pemimpin yang siap bekerja dengan gagasan, bukan hanya dengan slogan,” tegasnya.Salah satu calon ketua, Ihab Sihabudin, menegaskan pentingnya PMII hadir lebih dekat dengan masyarakat. Menurutnya, kekuatan pergerakan mahasiswa justru terletak pada keberpihakan terhadap rakyat kecil.
“PMII tidak boleh terjebak dalam kegiatan seremonial. Kita harus menjadi solusi atas masalah riil di lapangan, seperti pendidikan dan kemiskinan ekstrem. Gerakan PMII harus bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya penuh semangat.
Berbeda sudut pandang, Rizal Nurfahrozy, calon ketua lainnya, menyoroti pentingnya menjadikan PMII sebagai organisasi mandiri, kritis, dan progresif.
“Kemandirian bukan berarti menutup diri, tapi membangun kekuatan internal tanpa ketergantungan. Kritis bukan sekadar vokal, tapi reflektif dan solutif. Dan progresif artinya berani berubah mengikuti dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai pergerakan,” tuturnya.
Dari unsur perempuan pergerakan, Aan Lestari, calon Ketua Kopri, membawa gagasan segar tentang penguatan peran kader perempuan di ruang publik.
“Kopri harus menjadi motor kaderisasi perempuan yang cerdas dan berintegritas. Kami ingin membangun gerakan multisektor, agar Kopri mampu berperan aktif dalam advokasi isu-isu perempuan dan sosial di Kuningan,” paparnya.
Debat berjalan dinamis dan inspiratif. Sorak tepuk tangan kerap terdengar ketika para calon menyampaikan pandangan yang menggugah.
Suasana intelektual terasa hidup, mengingatkan kembali bahwa PMII bukan sekadar organisasi, melainkan madrasah pergerakan tempat kader belajar berpikir, berbicara, dan bertindak untuk perubahan.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa regenerasi di tubuh PMII Kuningan terus berlanjut. Bahwa di tengah derasnya arus pragmatisme, masih ada ruang bagi mahasiswa untuk beradu gagasan, memperjuangkan nilai, dan menanamkan integritas dalam setiap langkah pergerakan.(Angga/FC)














































































































Discussion about this post