KOTA CIREBON, (FC).– Bank Sampah Mekar Berseri RW 09 Kesunean Selatan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, menjadi salah satu contoh keberhasilan pengelolaan sampah di wilayah pesisir padat penduduk.
Sejak berdiri pada Tahun 2012 Bank Sampah ini mampu bertahan dan berkembang dengan jumlah anggota yang kini mencapai lebih dari 100 orang.
Kepada Fajar Cirebon, Minggu (10/8/2025), Pepep Nurhadi selaku Ketua RW 09 mengungkapkan, operasional Bank Sampah berjalan baik dan rutin setiap Hari Sabtu.
Pengurus melakukan pengambilan sampah ke seluruh RT. Sampah yang terkumpul dipilih menjadi 3 kategori untuk dijual ke pengepul, untuk kerajinan dan untuk kompos.
Dalam sebulan, hasil penjualan dapat memenuhi satu mobil dan satu motor tiga roda.
“Alhamdulillah Bank Sampah kita hidup. Warga sudah terbiasa memilah sampah dari rumah,” ujar Pepep.
Meski aktif, Bank Sampah ini menghadapi keterbatasan lahan untuk membangun (Gedung 3R) Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle.
“Kami hanya punya lahan 10X10 Meter, sedangkan syarat pemerintah 20X20. Padahal kalau tertata rapi, ukuran 10X10 sudah cukup untuk kantor, ruang kerajinan dan pengelolaan pupuk,” ungkap Pepep.
Pencatatan tabungan sampah juga masih manual, karena sebagian besar pengurus belum terbiasa menggunakan aplikasi digital. Selain itu, aktivitas fisik pengurus yang padat sering menjadi tantangan tersendiri.
Untuk menambah nilai ekonomi, Bank Sampah memproduksi berbagai kerajinan dari plastik, botol, stik es krim, kardus, hingga kain bekas.
Produk tersebut pernah dipamerkan di Surabaya dan Palu, serta menjadi pesanan khusus dari instansi seperti Kodim Komando Distrik Militer dan pemerintah daerah.
Pengurus juga memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk kompos yang dibagikan kepada warga untuk keperluan kebun dan ternak.
“Selain itu, program penghargaan rutin diberikan untuk penabung terbanyak dan anggota yang rajin guna memotivasi masyarakat,” katanya.
Pemerintah Kota Cirebon dan dinas terkait memberikan dukungan dalam bentuk bantuan peralatan, motor roda tiga, mensin kompos serta pelatihan pengelolaan Bank Sampah, termasuk di Bantul, Yogyakarta.
Bank Sampah itu juga mendapat kepercayaan untuk mewakili Kota Cirebon, dalam berbagai kegiatan, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Proses pengolahan dimulai dari pemilahan di rumah warga. Sampah anorganik yang bernilai jual disetor ke Bank Sampah dan dicatat dalam buku tabungan.
Sampah organik seperti daun kering, sisa sayur, dan nasi diolah menjadi kompos atau pakan ternak. Sebagian hasil daur ulang diolah menjadi kerajinan yang memiliki nilai seni dan ekonomi. Penjualan hasil daur ulang dilakukan sebulan sekali ke pengepul.
Pepep berharap pemerintah dapat membantu pembangunan gedung 3R yang layak.
“Kalau ada gedung, warga bisa langsung datang menabung seperti di koperasi, tidak perlu lagi dijemput. Bank Sampah bisa lebih berkembang, lebih tertata, dan lebih bermanfaat untuk masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan, keberadaan Bank Sampah menjadi sumber kemajuan RW 09, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi warga. (Red)














































































































Discussion about this post