INDRAMAYU, (FC).- Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara merilis sebanyak 169 santri dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19.
Berasal dari kluster tiga pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Indramayu dan Sindang.
Jumlahnya terus bertambah setelah Satgas Covid-19 Kabupaten Indramayu melakukan tracing dan testing secara masif.
“Ini berdasarkan hasil tracing dan testing yang dilaksanakan Satgas Covid-19,” jelasnya kepada FC,, Selasa (9/3).
Deden merinci, pada klaster ponpes tersebut terjadi di Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqo di Kecamatan Sindang, dengan jumlah santri yang terpapar terus bertambah.
Pada awalnya ada 32 orang yang dinyatakan positif, kemudian bertambah 35 orang, dan terakhir bertambah 10 orang.
“Setelah kita lakukan koordinasi dengan Satgas Covid-19 kecamatan dan kabupaten, lalu pertemuan dengan pengurus pondok pesantren, kemudian dilakukan tracing dan testing terhadap kontak erat dari 32 orang yang terkonfirmasi. Totalnya ada 77 orang di Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqo,” paparnya.
Kluster yang terjadi di ponpes tersebut, kemudian menyebar ke Asrama Ar-Rohimah sekaligus Yayasan Rumah Yatim di Kecamatan Indramayu.
Sedikitnya ada 20 orang dinyatakan positif Covid-19. Asrama ini merupakan cabang dari Ponpes Al Urwatul Wutsqo.
Kluster ponpes tersebut, juga termasuk yang terjadi di Ponpes Tahfidz Abdurrahman Basuri di Kecamatan Sindang. Tercatat, sebanyak 72 santrinya positif Covid-19.
“Kluster ini terjadi, seiring kegiatan belajar tatap muka di lingkungan pesantren,” sebutnya.
Terhadap perkembangan itu, Satgas Covid-19 secara intens terus melakukan pemantauan di tiga lokasi tersebut. Bagi santri yang positif Covid-19, dipastikan sudah dipisahkan dengan yang tidak terpapar.
“Kami tetap mengimbau kepada semua pihak, khususnya ponpes-ponpes agar dalam belajar tatap muka dikoordinasikan dulu dengan Satgas Covid-19 di kecamatan maupun kabupaten,” imbuhnya.
Hal ini agar dilakukan langkah-langkah antisipasi terlebih dulu. Bahkan jika diperlukan, akan dibantu pemeriksaan termasuk tes dengan antigen sebelum pelaksanaan belajar tatap muka.
“Kemudian apabila ada hal-hal yang berindikasi seperti sakit demam, batuk, atau pilek, agar segera memberitahukan untuk dilakukan tracing dan testing,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini sudah ada rencana untuk pelaksanaan belajar tatap muka dengan memperketat sistem pembelajarannya.
Diantaranya, pemeriksaan antigen pada awal masuk. Namun dengan adanya kasus kluster ponpes, dianggap perlu untuk dilakukan evaluasi bersama pihak-pihak terkait.
“Sesuai ketentuan pemerintah pusat, pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2021/2022 di bulan Juli 2021. Ini sesuai pula dengan percepatan vaksinasi tahap dua yang sasarannya termasuk tenaga pendidik dan kependidikan,” ucap Deden mengakhiri. (Agus)













































































































Discussion about this post