KUNINGAN, (FC).- Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram yang sempat dikeluhkan warga Kabupaten Kuningan usai perayaan Idulfitri 1447 H akhirnya mendapat penjelasan dari Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan dan Perindustrian (Diskopdagperin) setempat.
Kepala Diskopdagperin Kuningan, H. Toni Kusumanto, menyebutkan bahwa menipisnya ketersediaan gas bersubsidi tersebut dipicu oleh lonjakan kebutuhan masyarakat menjelang hingga pasca Lebaran.
“Penyebab utamanya karena kebutuhan masyarakat meningkat, apalagi saat momentum Lebaran. Ditambah kemungkinan ada warga yang menyimpan stok lebih awal, sehingga di tingkat agen maupun pengecer cepat habis,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Minggu (22/3).
Menurutnya, pemerintah daerah bersama pihak Pertamina sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi dengan menambah pasokan elpiji sejak beberapa hari sebelum hari raya.
“Stok sudah ditambah mulai H-3 sampai H+3. Bahkan kita sudah meminta Pertamina untuk menambah pasokan jauh hari sebelum Lebaran,” jelasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, penyaluran tambahan elpiji di Kabupaten Kuningan dilakukan melalui skema fakultatif dan extra dropping. Pada 19 Maret 2026 tercatat sebanyak 45.360 tabung, 20 Maret 2026 sebanyak 9.520 tabung, dan 22 Maret 2026 sebanyak 28.000 tabung.
Sementara untuk extra dropping, dilakukan pada 20 Maret 2026 sebanyak 11.200 tabung dan kembali dijadwalkan pada 23 Maret 2026 sebanyak 11.200 tabung.
Meski demikian, di lapangan harga elpiji 3 kilogram di tingkat pengecer sempat melonjak hingga Rp23 ribu hingga Rp25 ribu per tabung. Menanggapi hal tersebut, Toni menegaskan bahwa pengawasan pemerintah hanya berlaku hingga Harga Eceran Tertinggi (HET) di tingkat pangkalan.
“Kita hanya bisa mengawasi sampai HET di pangkalan, yaitu Rp19 ribu. Kalau sudah di subpangkalan atau pengecer, biasanya ada tambahan biaya operasional dan keuntungan,” katanya.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau penimbunan, agar distribusi gas bersubsidi dapat merata dan tepat sasaran.
“Sebaiknya masyarakat membeli seperti biasa saja, jangan sampai menimbun gas 3 kg karena masih ada warga lain yang membutuhkan. Bagi masyarakat yang mampu secara ekonomi, diharapkan menggunakan gas non-subsidi,” imbaunya.
Diskopdagperin memastikan distribusi elpiji, baik reguler maupun tambahan, akan terus dijaga agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meski terjadi lonjakan konsumsi pada momen tertentu.(Angga)
















































































































Discussion about this post