KAB. CIREBON, (FC).- Kuwu atau Kepala Desa Cibogo Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon Ahmad Hudori mengaku tidak pernah menerima permohonan apalagi mengeluarkan izin mendirikan bangunan di lokasi tersebut.
“ Saya juga mendapat kabar bahwa pabrik itu sudah disegel. Besok saya akan cek ke lokasi. Katanya sudah disegel, tapi saya pastikan lagi,” tambahnya.
Bahkan, Kuwu Cibogo Ahmad Hudori, mengaku baru tahu ada pabrik itu setelah dikonfirmasi wartawan. “Saya tidak tahu, malah baru tahu sekarang. Lokasinya memang di perbatasan, jarang terpantau,” ujarnya.
Sebelumnya, warga dibuat terkejut dengan penemuan sebuah pabrik yang diduga memproduksi oli palsu di wilayah Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon.
Bangunan itu berdiri hanya beberapa meter di belakang Balai Desa Cisaat, Kecamatan Waled, namun secara administratif berada di wilayah Desa Cibogo, Rabu (13/8/2025).
Keberadaan pabrik tersebut menimbulkan tanda tanya besar. Bagaimana bisa fasilitas industri beroperasi begitu dekat dengan pusat pemerintahan desa tanpa diketahui oleh kedua kepala desa yang wilayahnya bersinggungan.
Kuwu Desa Cisaat, Haruman menegaskan, pabrik itu bukan berada di wilayahnya. “Lokusnya bukan di wilayah kami, melainkan di Desa Cibogo,” kata Haruman saat dikonfirmasi.
Informasi soal penyegelan justru pertama kali diterima Satgas Desa Cibogo dari Satgas Desa Cisaat. Menurut Satgas Cisaat, Eman, penyegelan dilakukan oleh Polresta Cirebon pada Sabtu (9/8/2025) siang. “Saya kaget juga, awalnya tidak tahu itu pabrik oli,” ungkap Eman.
Menariknya, Linmas Desa Cisaat, Jaja, pernah mencoba oli dari pabrik tersebut. Namun, bukan hasil positif yang didapat.
“Saya pernah dikasih dua botol, saya isi ke motor, malah ngebul. Akhirnya saya ganti lagi,” tuturnya.
Berdasarkan keterangan warga, Nana, yang pernah tinggal di kontrakan dekat pabrik oli palsu tersebut menjelaskan, bahwa yang dia ketahui sekitar 2 tahun lalu ada penggrebekan dari Polda Banten, dimana ditemukan pemasaran oli bekas yang direproduksi kemudian menjadi oli pabrikan dalam kemasan berbagai jenis merk oli kendaraan sepeda motor dan mobil.
Namun sejak saat itu tidak ada lagi kegiatan, hanya dulu masih ada karyawan keluar masuk ke pabrik sekitar 6 orang, sejak saat itu tidak ada lagi kegiatan, kalau beberapa minggu lalu beroperasi lagi dirinya tidak tahu apalagi sudah pindah kontrakan.
“Ya dulu sih ada keluar masuk kendaraan, disitu tahunya saya menampung oli bekas,” ungkapnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian belum merilis keterangan resmi soal dugaan pembuatan oli palsu itu, sementara publik menanti jawaban atas pertanyaan: siapa pemilik pabrik yang nyaris tak terlihat ini. (Nawawi)












































































































Discussion about this post