Lakukanlah yang Terbaik, Agar Kita Bisa Mengukur Kemampuan Kita
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Institus Pertanian Bogor (IPB) pada tahun 1986, Arif bersama satu orang temannya melamar ke PT. Inter Delta. Setelah di review oleh Manager dari PT. Inter Delta, temannya memilih untuk mundur karena tawaran gaji Rp175.000 pada masa itu dianggapnya kurang untuk lulusan S1 yang rata-rata memiliki gaji Rp300.000.
Namun, hal tersebut tidak membuat Arif mengikuti temannya yang mundur, tetapi ia memilih untuk melanjutkan bekerja di PT. Inter Delta tersebut.
“Pada saat itu saya memilih untuk melanjutkan, karena orang lain kan belum tahu kita siapa, bagaimana kompetensi kita, dan hasil kerja kita, sehingga ‘seperti orang beli kucing dalam karung,’ oleh karena itu sayang bilang, saya sanggupi dan akhirnya diterima,” ungkapnya.
Pada hari pertama ia bekerja di PT. Inter Delta, ia langsung mendapat tambahan gaji Rp15.000, yang tadinya Rp175.000 menjadi Rp 190.000, karena gaji sebelumnya dianggap terlalu rendah. Setelah menjalani pekerjaan di PT. Inter Delta, Arief memiliki gaji yang naik setiap 3 bulan sekali.
Pada saat ia bekerja sudah selama 1 tahun, ia dipindahkan ke bagian Marketing eksekutif untuk menjual motion picture market sampai tahun 1988. Kemudian ia ditarik oleh Manajer PT. Inter Delta yang pindah ke Salim Group, dan masuk ke perusahaan yang kala itu bernama Krakatau Baja Permata selama 2 tahun.
Karena pada saat itu Salim Group membeli PT. Altron, dan akhirnya ia dipindah ke PT. Altron sebagai orang pertama dalam rangka akuisisi tersebut, selama 2 tahun. Ia memutuskan untuk berhenti di PT. Altron pada saat itu, karena menemani sang istri yang mendapat beasiswa dari Bank Exim, yaitu tempatnya bekerja, untuk melanjutkan S2 ke Amerika, dan akhirnya masuk di Vanderbilt University mengambil Master of Business Administration (MBA).
Karena melihat sang istri kuliah kembali, Ayah 3 putri ini memiliki semangat untuk ikut melanjut pendidikannya kembali di Amerika, yaitu di Tennessee State University, mengambil MBA. Disana ia melamar untuk mengikuti lowongan di graduate assistant, karena di awal semester ia meraih nilai A secara keseluruhan, ia pun diterima dan bisa melanjutkan pendidikan dengan gratis, bahkan biaya yang telah ia keluarkan sebesar 3000$ dikembalikan lagi.
“Disana juga saya pakai ilmunya pa Andi Hakim Nasution, Rektor saya semasa kuliah dulu. Jadi beliau katakan jika keesokan hari mau belajar, malamnya harus dipelajari dulu apa yang ingin diajarkan besok, nah setelah besok pada saat kuliah, jika ada yang tidak saya mengerti akan saya tanyakan, setelah saya selesai kuliah, maka akan saya review kembali,” tukasnya.
Sepulangnya dari Amerika, ia melamar ke PT. Sucofindo dan langsung diterima, sebagai Sucofindo Registrar for Quality Assurance (SRQA), yaitu bagian yang mensertifikasi iso 9000 sistem manajemen mutu. Setelah 6 bulan bekerja, ia dipindahkan untuk memegang project manajemen unit, kemudia di 6 bulan selanjutnya ia dipercaya kembali untuk memegang Indonesian Institute for Qualuty Management (IIQM).
“Awalnya saya langsung ditawari sebagai General Manager (GM), namun saya menolak karena masih ada GM nya pada saat itu. Tapi pada akhirnya oleh Dirut saat itu, saya tetap dipilih sebagai GM,” jelasnya.
Setelah selama 2 tahun menjabat menjadi GM, ia diminta kembali untuk menjadi Direktur Utama (Dirut) di anak perusahaan Sucofindo, yang memiliki nama awal PT. Prima Mutu Andalan, namun pada saat itu Arief berfiki, akan banyak orang yang tidak tahu bahwa PT. Prima Mutu Andalan merupakan anak perusahaan dari Sucofindo.
Akhirnya ia mengubah nama tersebut menjadi Sucofindo Prima International Consultant (SPRINT), karena menurutnya dengan menggunakan nama Sucifindo, orang akan melihat dan yakin, sehingga bisa memberi kepercayaan kepada perusahaan. Setelah 2 tahun menjabat menjadi Dirut anak perusahaan Sucofindo, ia ditarik lagi ke pusat, untuk menjadi Corporate Secretary.
Kemudian pada Desember 2002, ia diangkat menjadi Direktur Komersial di Sucofindo, dan jabatan terakhirnya di Sucofindo adalah sebagai Direktur Utama dari tahun 2008-2013.
Setelah selesai menjabat menjadi Dirut di Sucofindo, ia memilih untuk melanjutkan pendidikan S3 nya ke IPB mengambil Strategi Manajer.
Setelah selesai melanjutkan pendidikan Doktornya, ia diminta untuk masuk ke Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI, sebagai Koordinator Komisi Komunikasi Dan Edukasi BPKN RI oleh temannya sejak tahun 2017 sampai dengan akhir Agustus 2020. (Indah/Job/FC)
BIODATA:
Nama : Dr. Arief Safari, MBA
Tempat Tanggal Lahir : Cirebon, 26 Juni 1963
Jabatan: Koordinator Komisi Komunikasi Dan Edukasi BPKN RI
Istri : Ir. Sri Mumpuni, MBA
Anak : 1. Anita Permatasari
2. Karina Nurlitasari
3. Muthia Vindyasari
Riwayat Pendidikan
TK Perwari Cirebon 1968 – 1969
SDN Kebon Baru 5 Cirebon 1970 – 1976
SMPN 1 Kota Cirebon 1976 – 1979
SMAN 1 Kota Cirebon 1979 – 1982
Institus Pertanian Bogor (IPB) : Teknologi Industri 1982 – 1986
Tennessee State University : Master of Business Administration (MBA) 1993 – 1994
S3 IPB : Strategi Manajemen 2013 – 2016
Riwayat Karir
PT. Inter Delta Jakarta 1986 – 1988
Salim Group : Krakatu Baja Permata 1988 – 1990
PT. Altron 1990 – 1992
PT. Sucofindo 1994 – 2013











































































































Discussion about this post