KUNINGAN, (FC).- Dampak pandemi Covid-19 semakin berat dirasakan pemerintah dan masyarakat Kuningan. Selain kesehatan dan ekonomi, pembangunan juga mengalami hambatan serius sehingga menyebabkan banyak program yang terganggu.
Salah satunya pembangunan relokasi warga terdampak bencana di berbagai wilayah di Kuningan. Pembangunan relokasi yang menyisakan tahap finishing ikut terhambat karena perhatian terhadap wabah cukup besar terutama dalam hal anggaran.
Seperti yang terjadi di relokasi Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, finishing pembangunan yang semestinya selesai awal tahun 2020 tetapi sampai akhir ini belum optimal. Dua kebutuhan inti masyarakat yaitu air dan listrik masih belum terpenuhi.
Padahal, sisa pembangunan yang harus diselesaikan oleh masing-masing warga sudah banyak yang terselesaikan.
“Sudah banyak yang pindah dari hunian sementara tapi kebingungan karena sampai sekarang belum ada air dan listrik. Kalau mau mandi dan ibadah sangat sulit,” kata Suhri kepada wartawan, Senin (4/5)
Kebutuhan pokok yang ditunggu segera terealisasi adalah air. Sebagai kebutuhan primer dalam kehidupan, keberadaan air bersih di lokasi baru tersebut sangat dinantikan keberadaannya.
Tanpa ketersedianan air, aktivitas warga sangat terganggu terutama ketika akan masak, mencuci alat rumah tangga, mandi, dan melaksanakan ibadah. “Selama ini mengandalkan air hujan untuk cuci piring atau lainnya. Ada juga yang mandi atau bersih-bersih di sungai. Tapi kalau malam kan tidak mungkin,” tuturnya.
Adapun mengenai listrik, lanjut dia, kebutuhannya tidak lebih penting dari air. Ketersediaan listrik juga diharapkan segera, tapi jika memilih skala prioritas lebih membutuhkan air terlebih dahulu. Adapun untuk menerangi malam hari, sementara ini cukup mengandalkan aliran listrik yang tersedia dari musala.
Pihaknya berharap pemerintah tetap memerhatikan kebutuhan pokok rakyat selain fokus melakukan penanganan Covid-19. Pikahnya memaklumi pandemi Covid merupakan sesuatu yang di luar dugaan yang kini menjadi bencana bagi warga di seluruh dunia, yang sangat membebani pemerintah.
“Semoga musibah ini cepat berlalu supaya pemerintah bisa kembali melakukan aktivitasnya seperti biasa,” harapnya.
Hal yang sama juga diamini warga lainnya. Di satu sisi kondisi hunian sementara yang sudah lebih dari dua tahun dihuni kini mengalami kerusakan, kemudian di sisi yang lain rumah baru sudah hampir selesai, pihaknya sudah tidak sabar ingin menghuni hunian tetap.
Tetapi ketika tidak ada air seluruh warga sangat kesulitan ketika akan ibadah dan lain sebagainya. (Sopandi)












































































































Discussion about this post