MAJALENGKA, (FC).- Musim Tanam II atau MT II tahun ini terasa menyesakan hati para petani yang ada di 3 desa yang ada di Kecamatan Ligung.
Ke tiga desa itu yakni Kedungsari, Kodasari dan Kedungkencana. Pasalnya di musim tanam ke dua tahun ini wilayah pesawahan nya kering kerontang seiring hujan yang semakin menjauh.
Dari puluhan hektar area pesawahan hanya sebagian saja yang bisa dilakukan untuk menanam padi MT II, hal ini dikarenakan sumber pengairan uang belum terpenuhi semuanya.
Aliran sungai sindupraja memang dekat dengan area pesawahan, namun posisi pesawahan yang lebih tinggi dari aliran sungai, hal ini yang cukup penyulitkan para petani.
Sebagian petani yang memiliki sedikit uang mereka tetap menggarap lahan sawahnya yang kering kerontang dengan bantuan pompanisasi dengan cara mengambil air dari sungai sindupraja uang jaraknya hampir 2 – 4 Km.
Namun bagi petani yang cekak dengan permodalan mereka membiarkan area pesawayannya kering kerontang dan ditumbuhi oleh rumput yang liar alias gagal tanam.
Bagi petani yang memaksakan diri untuk menggarap lahannya, mereka terpaksa mengairi sawahnya dengan cara membayar pompanisasi dengan sistim bayar per jam. Untuk satu jam pengairan petani harus membayar Rp 50 ribu, sehingga para petani rata rata dibuat pusing tujuh keliling.
Maksum seorang petani di Desa Kedungsari mengatakan, tahun ini adalah tahun yang cukup menyulitkan bagi para petani di Desa Kedungsari. Dimana lahan sawah puluhan hektar terancam gagal tanam, hal ini dikarenakan faktor pengairan yang cukup menyulitkan.
Disamping itu curah hujan yang dua bulan terakhir tidak turun menanbah daftar kesulitan petani untuk menggarap lahan sawahnya di musim MT II ini.
Dikatakan Maksum, petani di desanya bagaikan menghadapi buah simalakama, dimana mau menggarap lahan untuk MT II kesulitan untuk pengairan, kalau toh bisa harus menyiapkan modal yang cukup banyak.
Kalau lahan dibiarkan mengering mereka sangat sayang karena sawah tersebut sumber penghasilan masyarakat setempat.
“Ya petani di sini cukup dibuat pusing, antara menggarap lahan sawah untuk MT II atau membiarkannya mengering,” uja Maksum, Senin (29/6).
Hal yang sama disampaikan petani lain Aripin, dirinya terpaksa menggarap lahan pertanian seluas 1 hektar karena sayang lahannya dibiarkan alias tidak dimanfaatkan untuk MT II. Walau dengan resiko yang cukup besar, dirinya tetap menggarap sawahnya itu.
“Ya mau bagaimana lagi, pertanian ini adalah sumber kehidupan kami sebagai petani. Jadi walau musim kemarau seperti ini, MT II tetap di jalankan walau penuh dengan resiko. Mudah mudahan saja kedepan ada kejaiban, dan berharap hujan akan segera turun,” pungkas Aripin singkat
Pantauan di lapangan, sebenarnya sumber air di ke tiga desa tersebut sangat cukup karena ada aliran sungai Sindupraja yabg sumbernya dari Bendungan Jatigede.
Namun jarak yang cukup jauh serta posisi lahan pertanian yang lebih tinggi dari aliran sungai, membuat petani di ke tiga desa tersebut cukup kesulitan untuk memanfaatkannya.
Para petani hanya bisa berharap, pemangku kebijakan untuk segera mengambil solusi terbaik agar petani di ke tiga desa tersebut tidak kesulitan di setiap menghadapi MT II, dengan cara membangun atau mengalokasikan anggaran untuk ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Mengingat sumber air yang memang lebih dari cukup, hanya bagaimana cara mengatasinya. (Munadi)








































































































Discussion about this post