KOTA CIREBON, (FC).- Perang yang tidak kunjung usai antara Iran dengan Israel dan Amerika, dampaknya terasa diberbagai aspek kehidupan. Terutama yang berkaitan dengan minyak bumi beserta turunan produksinya.
Turunan produksinya antara lain berupa bahan bakar, plastik dan aspal.
Nah, aspal yang merupakan salah satu material utama untuk pembangunan dan pemeliharaan jalan juga tidak ketinggalan terkena dampaknya. Kenaikan harga aspal pun tidak bisa dihindarkan.
Hal ini juga yang membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon harus menghitung ulang rencana pembangunan dan pemeliharaan jalan di Tahun 2026 ini.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cirebon, Rachman Hidayat mengatakan, lonjakan harga aspal saat ini mencapai 20 hingga 30 persen dibandingkan sebelumnya.
“Iya, sudah naik sekitar 20 sampai 30 persen dari sebelumnya,” ujar Rachman, Jumat (22/5).
Menurutnya, kenaikan harga tersebut tidak lepas dari situasi global yang dipicu ketegangan antara Iran dan Israel serta Amerika Serikat.
Sebab, aspal merupakan salah satu material turunan minyak bumi yang sangat dipengaruhi fluktuasi harga energi dunia.
“Kenaikan ini juga merupakan buntut dari ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat karena memang bahan bakunya berasal dari minyak bumi,” ucapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Pemkot Cirebon kini dihadapkan pada tantangan baru dalam menjalankan program infrastruktur jalan.
Rachman mengungkapkan, kenaikan harga aspal berdampak langsung terhadap volume pekerjaan hingga panjang ruas jalan yang dapat diperbaiki tahun ini.
“Itu berdampak kepada volume pekerjaan dan juga panjang penanganan,” jelas dia.
Karena itu, pihaknya kini tengah menyusun ulang perencanaan anggaran agar program perbaikan jalan tetap bisa berjalan meskipun dengan keterbatasan biaya.
“Maka dari itu, saat ini kami sedang menyusun perencanaan ulang karena harga yang ada sekarang sudah tidak sesuai dengan perencanaan awal anggaran,” katanya.
Ia menjelaskan, total anggaran pemeliharaan dan perbaikan jalan di Kota Cirebon tahun ini hanya sebesar Rp 8 miliar.
Dengan kenaikan harga aspal yang cukup tinggi, penggunaan anggaran harus disesuaikan kembali agar tetap efektif.
“Perbaikan dan pemeliharaan jalan di Kota Cirebon itu anggarannya hanya Rp 8 miliar sehingga dengan adanya kenaikan harga aspal jadi mau tidak mau penggunaan anggarannya harus dihitung ulang,” ujarnya.
Meski demikian, Pemkot Cirebon masih memiliki harapan melalui dukungan pendanaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan program Inpres Jalan Daerah (IJD).
“Untungnya kami masih memiliki dukungan perbaikan jalan melalui dana provinsi maupun Inpres Jalan Daerah,” ucap Rachman.
Menurut Rachman, program Inpres Jalan Daerah direncanakan mulai berjalan pada Oktober 2026 mendatang.
Di tengah kondisi harga material yang terus bergejolak, DPUTR Kota Cirebon berharap situasi global segera mereda sehingga harga konstruksi dapat kembali stabil.
“Kami terus berupaya agar pelayanan infrastruktur kepada masyarakat tetap berjalan optimal meskipun di tengah adanya kenaikan harga material,” jelas dia. (Agus)












































































































Discussion about this post