KUNINGAN, (FC).- Upaya meningkatkan kualitas mangga Kuningan terus ditingkatkan.
Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penerapan Good Agriculture Practice (GAP) Mangga di Balai Desa Kutakembaran, Jumat (21/11).
Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan petani dalam menerapkan standar budidaya modern dan berkelanjutan.
Bimtek dihadiri Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah, jajaran Bidang Hortibun dan UPTD KPP Garawangi, Ketua Tim Sub Sektor Buah dan Hias Dinas TPH Provinsi Jawa Barat Astutiningsih, Peneliti PKHT IPB sekaligus Dosen Faperta IPB Endang Gunawan, Kepala Desa Kutakembaran Anton Wiradijaya, serta petani mangga dari berbagai kecamatan di Kabupaten Kuningan.
Dalam sambutannya, Wahyu menegaskan bahwa Kuningan memiliki potensi besar sebagai sentra mangga nasional, terutama di wilayah timur dan utara.
“Per 2024 tercatat 683.810 pohon mangga di Kabupaten Kuningan. Sebanyak 303.417 pohon di antaranya sudah berproduksi, dengan produktivitas rata-rata 109 kilogram per pohon. Total produksi tahun lalu mencapai 33.080 ton,” ungkapnya.
Meski produksinya besar, ia menilai peningkatan kualitas masih harus dikejar agar mangga Kuningan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Menurutnya, penerapan GAP, penguatan manajemen budidaya, serta pendampingan pengolahan hasil merupakan langkah strategis dalam memperbaiki kualitas buah dan meningkatkan nilai jual.
Dalam Bimtek tersebut, peserta mendapatkan materi terkait standar GAP, meliputi pengelolaan lahan dan sanitasi kebun, penggunaan benih unggul, pemupukan tepat jenis dan dosis, pengendalian hama terpadu, serta penanganan pascapanen untuk menjaga mutu buah.
Pada kesempatan itu Wahyu juga menekankan pentingnya penggunaan pupuk organik cair (POC) sebagai bagian dari sistem pertanian berkelanjutan.
Sebagai dukungan konkret, turut diserahkan bantuan 266 bibit mangga dan 30 liter pupuk organik cair (POC) dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Provinsi Jawa Barat kepada kelompok petani.
Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan populasi tanaman produktif dan sekaligus mendorong kualitas buah melalui penggunaan pupuk organik.
“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Dinas TPH Provinsi Jawa Barat atas dukungannya. Ini sangat berarti bagi petani mangga di Kuningan,” kata Wahyu.
Ia juga mendorong petani untuk tidak hanya fokus pada buah segar, tetapi mengembangkan olahan turunan seperti dodol, puree, sirup, dan keripik mangga sehingga pendapatan petani lebih stabil dan berkelanjutan.
Bimtek GAP Mangga ini menjadi momentum penting bagi Kuningan dalam memperkuat kualitas hortikultura daerah.
Pemerintah daerah bersama provinsi, perguruan tinggi, dan pemerintah desa berkomitmen mendampingi petani agar mampu menerapkan standar budidaya modern, sehat, dan berorientasi pasar.
Dengan penguatan kapasitas dan dukungan sarana tanam, mangga Kuningan diharapkan mampu menjadi komoditas unggulan yang tak hanya produktif, tetapi juga berkualitas tinggi serta kompetitif di tingkat nasional.(Angga/FC)













































































































Discussion about this post