KUNINGAN, (FC).- Seorang guru honorer di Kabupaten Kuningan, Rizal Nurdimansyah, terkejut setelah namanya tercantum dalam dokumen pembelian mobil mewah senilai Rp4,2 miliar.
Warga Lingkungan Lingga Kemuning, Kelurahan Winduherang, Kecamatan Cigugur itu menegaskan tidak pernah melakukan transaksi pembelian kendaraan jenis Ferrari 458 Speciale Aperta sebagaimana tercantum dalam dokumen yang beredar.
“Saya kaget, karena tidak pernah membeli mobil itu. Bahkan sebelumnya ada yang menghubungi saya untuk meminta izin menggunakan KTP,” ujarnya saat ditemui, Rabu (15/4).
Rizal menjelaskan, pada 2 April 2026 ia sempat dihubungi seseorang yang mengaku berasal dari wilayah Ciawigebang, Kuningan, dan meminta izin menggunakan identitasnya untuk pembelian mobil.
Permintaan tersebut langsung ditolak karena khawatir terjadi penyalahgunaan data. Tak lama berselang, ia kembali dihubungi nomor berbeda dengan tawaran imbalan Rp5 juta agar bersedia meminjamkan KTP.
“Saya tetap menolak karena jelas berisiko,” katanya.
Ia menduga data pribadinya telah tersebar di internet, salah satunya melalui dokumen lama terkait platform asuransi, sehingga rawan disalahgunakan pihak tidak bertanggung jawab.
“Saya khawatir data saya diambil tanpa sepengetahuan saya,” ujarnya.
Berdasarkan dokumen faktur kendaraan yang beredar, pembelian mobil tersebut tercatat melalui distributor resmi di Jakarta Pusat dengan nomor faktur FRR/52784/2026 tertanggal 14 Januari 2026. Dalam dokumen itu, tercantum kendaraan Ferrari tipe 458 Speciale Aperta tahun 2020 berwarna kuning dengan kapasitas mesin 4.497 cc.
Nama Rizal Nurdimansyah tercantum sebagai pemilik kendaraan dengan alamat di Lingga Kemuning, Winduherang, Cigugur, Kabupaten Kuningan.
Atas kejadian tersebut, Rizal berharap aparat penegak hukum dapat menindak tegas pelaku pencatutan identitas.
“Saya berharap ini diproses secara hukum agar ada efek jera,” ujarnya.
Ia juga meminta instansi terkait, khususnya Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), memperketat sistem verifikasi identitas, termasuk melalui penerapan teknologi pengenalan wajah atau verifikasi berlapis.
Kasus ini menjadi perhatian publik mengingat nilai transaksi yang besar serta potensi kerugian akibat penyalahgunaan identitas. Hingga kini, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pencatutan tersebut. (Angga)












































































































Discussion about this post