KOTA CIREBON, (FC).- Pada awal 2019, Ketua Badan Peningkatan Penyelenggaraan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM) Bambang Sudiatmo mengatakan, tingkat kehilangan air pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di seluruh Indonesia rata-rata sebesar 33,16 persen. Angka ini masih harus ditekan karena belum memenuhi target yang ditentukan, yaitu kurang dari 20 persen.
Menyikapi hal itu, Ketua Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Cirebon Watid Sahriar, meminta agar Perumda Air Minum Tirta Giri Nata (PDAM TGN) Kota Cirebon mampu menekan tingkat kebocoran, dan bisa lebih efesien dalam mengolah perusahaan.
Saat ini, sambung Watid, tingkat kebocoran air pada Perumda PDAM TGN Kota Cirebon sekitar 30 persen dari total produksi. Hal ini disampaikannya saat rapat bersama PDAM TGN di Ruang Serbaguna, Rabu kemarin.
“Kalau saya lihat dari angka-angka ini memang kurang efesien. Masih ada kebocoran air 30 persen lebih,” ungkap politisi Partai Nasdem ini, Kamis (13/1).
Pihaknya mendapatkan data dari PDAM TGN, produksi air pada rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) tahun ini mencapai 30.100.000 meter kubik. Tahun sebelumnya, produksi air mencapai 29.100.000 meter kubik.
Tingkat kebocoran pada tahun 2021 mencapai 8.436.063 meter kubik. Sedangkan tahun ini diprediksi tingkat kebocoran mencapai 8.466.000 meter kubik. Untuk itu pihaknya menyarankan agar PDAM TGN lebih baik fokus pada penanganan tingkat kebocoran. Ketimbang berencana untuk meningkatkan produksi air. Apalagi ada prediksi penurunan pelanggan pada tahun ini.
“Kalau prediksinya turun, ya jangan meningkatkan produksi. Karena produksi itu membutuhkan biaya,” imbuhnya.
Sementara itu, Direktur PDAM TGN, Sopyan Satari menjelaskan, penanganan kebocoran air merupakan salah satu dari sembilan poin dalam RKAP 2022. Sopyan mengatakan tahun ini penanganan kebocoran menggunakan pola distrik meter air (DMA).
Dibeberkan pria yang akrab disapa Opang ini, DMA ini dibuat zona setiap wilayahnya. Sekarang itu zonanya ada Majasem, Perumnas Gunung dan Burung. Dari sistem ini pihaknya memasang meter induk dan pelanggan, kemudian dibandingkan.
“Tingkat kebocoran sekarang sekitar 30 persen dari total produksi. Banyaknya pipa distribusi dan transmisi yang harus direvitalisasi merupakan penyebab kehilangan air,” tambahnya.
Selain soal kebocoran, dalam RKAP yang disampaikan Opang, juga menargetkan peningkatan pelanggan. Namun, Opang tak menampik hal tersebut tak akan mudah. Sebab, pandemi Covid-19 berimbas pada penggunaan air.
“Kemudian masalah tarif juga penting, karena sejak 2012 tidak ada kenaikan tarif. Kita menunggu peraturan gubernur mengenai tarif batas atas dan bawah,” tutupnya. (Agus)















































































































Discussion about this post