KOTA CIREBON, (FC).– Belum usai permasalahan harga dan kelangkaan minyak goreng, kini industri tahu dan tempe di Kota Cirebon juga turut bergejolak. Kenaikan ini dipengaruhi dari harga kedelai yang berada level US$1.586 per bushel atau naik 0,62 persen.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebelumnya melaporkan ada kenaikan harga kedelai impor di dalam negeri seiring dengan harga kedelai global yang mengalami peningkatan.
Berdasarkan data dari Kemendag, harga kedelai pada minggu pertama Februari 2022 mencapai 15,77 per bushel atau sekitar Rp11.240 per kg.
Seperti yang dialami Pabrik Tahu H. Ola yang berlokasi di Kel/Kecamatan Harjamukti, melalui staf administrasinya Rokib menuturkan, seminggu terakhir harga kedelai di pasaran mengalami kenaikan. Namun kenaikan pada waktu itu masih dalam batas toleransi kewajaran.
“Seminggu kemarin mulai merangkak naik, tapi 2-3 hari kebelakang naiknya sudah keterlaluan. Sehingga kami terpaksa menurunkan jumlah produksi pabrik,” jelasnya kepada FC, Senin (21/2).
Dibeberkannya, kenaikan wajar harga kedelai di kisaran Rp100-300. Akan tetapi pada tiga hari kemarin naiknya mencapai Rp1.200, dan ini tentunya sangat berpengaruh pada produksi. Dengan kondisi ini, mau tidak mau harga juga naik tapi ukuran tahu tetap tidak berubah.
“Kita inginnya tidak naikin harga, tapi terpaksa, meskipun di lapangan kadang ada yang gak nerima dengan kenaikan, ada juga yang disiasati dengan ukuran lebih kecil. Kita masih normal kalo ukuran, tapi memang ada sedikit kenaikan,” lanjut Rokib.
Kenaikan yang dilakukan pabriknya, dijelaskan Rokib, harga tahu per papan, harga yang biasanya hanya Rp30-31 ribu, terpaksa mengalami kenaikan sampai Rp2.000.
Tergolong tidak besar, akan tetapi dampaknya ini sangat dirasakan oleh para pedagang dipasaran, bahkan ada beberapa pasar yang para pedagang tahu tempenya melalukan aksi mogok jual.
“Mogok sih tidak, tapi kita terhambat di penjualan, apalagi ada pemberitahuan beberapa pasar tidak jual tahu tempe dulu, seperti di Pasar Kalitanjung, Jagasatru, Drajat dan Perumnas tidak boleh jual dulu,” jelas Rokib.
Senin kemarin saja, ditambahkan Rokib, karena perkembangan kondisi harga, serta kondisi pedagang di beberapa pasar, pabriknya mengurangi produksi sampai 30 persen.
Dari biasanya pada hari normal bisa menghabiskan 350 kilogram bahan baku kedelai, kemarin hanya bisa memproduksi 200 kilogram saja.
Ini tentu menyebabkan omzet pabriknya turun, mengingat pabrik tahu H Ola sendiri tak hanya menyuplai stok tahu di pasar-pasar tradisional di Kota Cirebon, melainkan juga sampai di Indramayu hingga Brebes.
“Pendapatan kami turun pasti, karena dari produksi normal 350 kilo kedelai per hari, rata-rata, sekarang cuma 200 kiloan, ya kita inginnya turun lah, harga kedelai normal lagi,” tutupnya. (Agus)















































































































Discussion about this post