MAJALENGKA, (FC).- Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Gunungmanik, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, akhirnya buka suara. Menyusul adanya puluhan penerima manfaat Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi MBG, pada Jumat (29/5) kemarin.
Pihak SPPG belum dapat menyimpulkan apakah keluhan yang dialami para penerima manfaat berasal dari makanan yang dibagikan atau faktor lainnya, karena masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kepala SPPG Gunungmanik, Dewi Andayani, mengatakan hasil penelusuran sementara menunjukkan sebagian besar penerima manfaat tidak langsung mengonsumsi makanan setelah dibagikan. Menurut dia, makanan MBG seharusnya disantap segera, jangan dibawa pulang dan dikonsumsi lebih dari beberapa jam.
Terlebih setelah pihaknya melakukan pengecekan di lapangan, itu banyak penerima manfaat yang memasukkan makanan ke wadah lain dan tidak langsung mengonsumsinya.
“Padahal sejak awal kami sudah mengingatkan agar makanan dimakan di tempat, karena kondisinya masih segar dan tidak layak untuk disimpan terlalu lama,” kata Dewi, Selasa (2/6).
Lebih jauh Dewi menjelaskan, makanan yang telah diporsikan ke dalam ompreng idealnya dikonsumsi dalam rentang waktu empat hingga enam jam setelah disajikan. Namun berdasarkan hasil penelusuran, sebagian penerima manfaat baru mengonsumsi makanan tersebut pada sore hingga malam hari.
“Mayoritas yang mengalami keluhan itu mengonsumsi makanan pada sore bahkan di malam hari. Itu di luar waktu ideal mengkonsumsi yang kami anjurkan,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya tidak ingin berspekulasi mengenai penyebab kejadian tersebut. Karena sampel makanan telah dikirim untuk diperiksa di laboratorium, dan hasilnya masih menunggu proses analisis dari pihak berwenang.
“Kami belum bisa memastikan apakah sumber masalah berasal dari makanan atau faktor lain. Karena itu kami memilih menunggu hasil laboratorium sebelum mengambil kesimpulan,” katanya.
Dijelaskannya, menu MBG yang dibagikan pada hari itu terdiri dari nasi putih, telur puyuh berbumbu, tumis labu siam dan jagung, serta tahu krispi. Hasil pemeriksaan laboratorium nantinya akan menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan hingga distribusi kepada penerima manfaat.
Data SPPG mencatat sedikitnya 22 penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan berupa mual, muntah, dan diare. Mereka berasal dari kalangan siswa SMP, SMA, hingga tenaga pendidik. Sebagian besar mulai mendatangi fasilitas kesehatan pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB atau beberapa jam setelah makanan dikonsumsi.
“Rata-rata mulai masuk ke Puskesmas Talaga pada dini hari. Gejala yang muncul berupa mual, muntah, dan diare,” tambah Dewi.
Ia memastikan seluruh biaya pengobatan penerima manfaat yang terdampak ditanggung oleh pihak penyelenggara dapur MBG. Saat ini kondisi para penerima manfaat dilaporkan telah membaik dan sebagian besar sudah kembali ke rumah masing-masing.
“Alhamdulillah seluruhnya sudah membaik. Yang sempat mendapatkan perawatan juga sudah pulang dan menjalani masa pemulihan,” katanya.
Menyusul kejadian tersebut, operasional dapur MBG Gunungmanik untuk sementara dihentikan. Penghentian dilakukan setelah Badan Gizi Nasional (BGN) mengeluarkan surat teguran dan meminta proses evaluasi dilakukan hingga hasil pemeriksaan laboratorium keluar. SPPG menyatakan siap mengikuti seluruh proses evaluasi dan memperbaiki setiap aspek yang diperlukan.
“Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, distribusi makanan hingga edukasi kepada penerima manfaat mengenai waktu konsumsi yang aman,” kata Dewi.
Tak lupa pihaknya juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pihak yang terdampak atas peristiwa tersebut. “Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh penerima manfaat dan keluarga yang terdampak. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang kembali,”pungkasnya. (Munadi)











































































































Discussion about this post