Dampak lainnya yang menimpa keraton, lanjutnya, adalah penghentian beberapa kegiatan rutin tahunan.
Diantaranya pada Bulan Ramadhan traweh di Masjid Agung ditiadakan. Namun tradisi dlug dag sebelum ramadhan yakni 30 Syaban masih bisa terselenggara.
Untuk tadarusan di Langgar Alit tetap ada, tapi saji maleman ditiadakan. Di Astana Gunung Jati, saji maleman masih berlangsung tapi oleh keluarga keraton saja tidak dihadiri oleh masyarakat umum. Gamelan Sekaten di Siti Inggil juga tidak dilaksanakan.
“Nah pada lebaran nanti, kita tidak melaksanakan salat Idul Fitri di Masjid Agung, hanya di Langgar Agung dengan jamaah keluarga saja. Open house yang biasanya dilakukan tahun ini ditiadakan,” terangnya.
Beban berat keraton ini mendapat perhatian serius dari Anggota DPR-RI Ir HE Herman Khaeron MSi. Penanganan dalam waktu dekat ini pihaknya akan menyalurkan bantuan sembako kepada abdi dalem dan pengurusnya.
“Jangka panjangnya, kita akan melakukan upaya sesuai dengan tugas sebagai anggota DPR. Dengan mengagendakan pembahasan di dewan terkait permasalahan ini. Termasuk untuk Keraton Kanoman, Kacirebonan, Keprabonan dan masyarakat Kota Cirebon umumnya,” tandasnya. (Gus)















































































































Discussion about this post