KOTA CIREBON, (FC).- Pedagang dan pelaku usaha mulai resah dengan meroketnya harga plastik. Kenaikan harga plastik yang gila-gilaan ini diduga imbas perang AS-Israel dan Iran. Pasalnya bahan dari plastik salah satunya berasal dari polymer yang merupakan turunan dari minyak mentah.
Kenaikan harga plastik kemasan mulai menekan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Para pedagang mengaku lonjakan harga plastik terjadi hampir setiap hari, bahkan mencapai dua kali lipat untuk beberapa merek.
Mau tidak mau, kenaikan harga plastik kemasan yang sudah menekan biaya produksi memaksa sebagian pelaku usaha menaikkan harga jual, meski berisiko menurunkan omzet.
Icih Suparsih, salah seorang pedagang warung di Kawasan Stadion Bima Kota Cirebon, kepada FC, Kamis (9/4) mengaku, kenaikan harga plastik mulai membebani modal dagang pengeluarannya.
Disebutkannya, plastik untuk es yang biasanya per pak harganya Rp8 ribu, kini melonjak naik menjadi Rp14 ribu. Hal sama juga berlaku untuk plastik kresek. Hak ini membuat dirinya kelimpungan untuk menutupi kenaikan harga plastik ini. Karena konsumen yang datang ke warungnya sebagian besar beli makanan dan minuman dibawa pulang, dengan menggunakan plastik.
“Saya keder mas, naikin harga nanti pelanggan engga mau beli lagi. Engga dinaikin keuntungan makin tipis saja,” ungkapnya.
Keluhan serupa dialami Suherman, penjual es teh manis di seputaran Jalan Perjuangan Kota Cirebon ini juga terkena imbas kenaikan harga plastik.
“Saya biasanya membeli cup plastik untuk wadah es teh manis ukuran 22 Oz per pak sekitar Rp14 ribu, kini naik menjadi Rp22 ribu, belum lagi plastik kreseknya. Untuk sementara belum berani naikin harga dulu mas, walaupun ini untung penjualannya jadi berkurang,” terangnya.
Sementara, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon, Iing Daiman mengungkapkan meski plastik bukan komponen utama dalam usaha, kenaikan harganya cukup membebani pedagang.
Menurutnya, banyak pedagang mengeluhkan berkurangnya margin keuntungan karena harus mengeluarkan biaya lebih untuk kebutuhan kemasan.
“Dari hasil pemantauan di lapangan, dampaknya cukup terasa karena menggerus keuntungan pedagang,” ujar Iing.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, kata Iing, pedagang mulai melakukan berbagai penyesuaian. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik, seperti menggabungkan beberapa jenis barang dalam satu kantong yang sebelumnya dipisah.
Selain itu, penggunaan plastik berlapis juga mulai ditinggalkan. Misalnya, kemasan minyak curah yang sebelumnya menggunakan dua lapis plastik kini cukup satu lapis saja.
Langkah-langkah tersebut dinilai tidak hanya sebagai strategi efisiensi, tetapi juga membawa dampak positif terhadap upaya pengurangan sampah plastik.
Iing menilai, kondisi ini secara tidak langsung mendorong tumbuhnya kesadaran pedagang untuk mulai beralih ke penggunaan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
“Bahkan, sejumlah pedagang mulai mencoba alternatif seperti daun pisang, meski penggunaannya masih terbatas dan belum merata,” katanya.
Di sisi lain, DKUKMPP juga mencatat mulai munculnya pelaku UMKM yang memproduksi kemasan berbahan organik. Namun, jumlahnya masih sedikit dan perlu dukungan agar bisa berkembang.
“Kami berharap, kesadaran yang mulai tumbuh ini dapat terus diperkuat melalui edukasi dan sosialisasi, sehingga pengurangan penggunaan plastik dapat menjadi kebiasaan di kalangan pedagang maupun pelaku usaha,” pungkasnya. (Agus)











































































































Discussion about this post