Kiai Muda Cirebon Raya Didorong Jadi Game Changer, Cetak Santri Berdaya Saing Global
KOTA CIREBON, (FC).- Peran kiai muda dan generasi santri dinilai memiliki posisi strategis dalam mendorong terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Kiai muda tidak hanya diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga mampu menjadi penggerak perubahan dengan menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, kewirausahaan, serta memiliki kepedulian terhadap persoalan kebangsaan.
Hal tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Diskusi Kebangsaan Bersama Kiai Muda Cirebon Raya bertajuk “Kiai Muda Sebagai Game Changer: Mencetak Santri Berdaya Saing Global, Berbasis Nilai Keislaman dan Sains”, yang digelar Minggu (9/8) di Nana Cafe, Kota Cirebon.
Dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menyampaikan materi mengenai peningkatan peran umat Islam dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ia menekankan pentingnya membangun sumber daya manusia yang unggul, berakhlak, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki keimanan yang kokoh.
Menurut Rokhmin, sebuah negara dapat maju, sejahtera, dan berdaulat apabila ditopang sejumlah faktor penting, antara lain penegakan hukum berdasarkan kebenaran dan keadilan, meritokrasi, kolaborasi antarkomponen bangsa, tata kelola pemerintahan yang baik, stabilitas politik, serta kepemimpinan yang kompeten, cerdas, baik dan kuat.
“Kita membutuhkan SDM unggul yang kompeten, kreatif, inovatif, beretos kerja tinggi, berakhlak mulia dan memiliki IMTAQ yang kokoh,”ujarnya.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan yang masih dihadapi Indonesia menuju 2045. Di antaranya pertumbuhan ekonomi yang dinilai belum optimal, pengangguran dan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kesenjangan pembangunan antarwilayah, deindustrialisasi, rendahnya kedaulatan pangan dan energi, kualitas sumber daya manusia, kerusakan lingkungan, serta tantangan perubahan global dan perkembangan teknologi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Indonesia disebut memiliki modal pembangunan yang besar. Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, bonus demografi, serta posisi geoekonomi dan geopolitik yang strategis menjadi kekuatan yang harus dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Karena itu, pembangunan Indonesia Emas 2045 menurut materi tersebut harus diarahkan pada pertumbuhan ekonomi yang tinggi, produktif, berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Transformasi ekonomi juga perlu diperkuat melalui pengembangan industri, kedaulatan pangan, energi dan farmasi, peningkatan produktivitas, pembangunan infrastruktur, serta penguatan ekonomi digital, blue economy, green economy, dan Ekonomi Pancasila.
Dalam konteks peran umat Islam, Rokhmin menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu agenda penting. Umat Islam didorong tidak berhenti pada penguatan aspek keagamaan, tetapi juga mampu menguasai dan mengamalkan IPTEK untuk memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Santri harus berilmu, berakhlak, menguasai teknologi, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” paparnya.
Materi tersebut juga menekankan pentingnya memperkuat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathoniah, dan ukhuwah basariyah. Selain itu, masyarakat didorong untuk memilih pemimpin yang cerdas, baik, memiliki keimanan dan akhlak mulia, serta memiliki kemampuan kepemimpinan yang kuat.
Rokhmin juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, perubahan iklim, ketegangan geopolitik dan dinamika ekonomi global akan memberikan dampak besar terhadap masa depan Indonesia. Karena itu, peningkatan daya saing nasional menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda.
Bagi kalangan pesantren dan kiai muda, tantangan tersebut sekaligus menjadi peluang untuk memperkuat peran pesantren sebagai pusat pendidikan, pembentukan karakter, pengembangan ilmu pengetahuan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Dengan bekal nilai keislaman dan penguasaan sains serta teknologi, generasi santri diharapkan mampu tampil sebagai generasi yang produktif, mandiri, inovatif dan memiliki daya saing global. Pada akhirnya, peran kiai muda tidak hanya sebatas memberikan pembinaan keagamaan, tetapi juga menjadi penggerak perubahan sosial dan pembangunan bangsa,” pungkasnya.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan penutup materi bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri dan diwujudkan melalui kontribusi nyata kepada masyarakat serta bangsa. (Nawawi)



Tinggalkan Balasan