KAB. CIREBON, (FC).- Sejumlah petani di Desa Jungjang dan Jungjang Wetan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, mengeluhkan minimnya pasokan air irigasi saat musim kemarau.

Kondisi tersebut membuat biaya pengairan meningkat dan berpotensi mengganggu produktivitas pertanian.

Petani berharap pemerintah melakukan normalisasi saluran irigasi agar aliran air kembali optimal hingga menjangkau kawasan persawahan Plawad.

Petani Desa Jungjang, Aryudin, mengatakan sebelum adanya pembangunan perumahan, saluran irigasi masih mampu mengaliri lahan pertanian hingga wilayah Plawad. Namun, kondisi tersebut berubah setelah terjadi pembangunan di sekitar area saluran.

“Kami ingin saluran irigasi dinormalisasi seperti semula agar air bisa sampai ke Plawad. Kalau tidak, biaya petani untuk pengairan semakin besar karena harus menggunakan pompa,” ujar Aryudin, Senin (17/8).

Menurutnya, persoalan tersebut sudah beberapa kali disampaikan kepada pihak terkait. Namun hingga kini petani belum mendapatkan solusi yang diharapkan.

Akibat keterbatasan air, biaya pengairan yang harus ditanggung petani meningkat. Saat musim penghujan, biaya sekitar 50 kilogram gabah per bau sawah.

Sementara saat kemarau dapat mencapai 100 kilogram hingga dua kuintal per bau, tergantung kebutuhan air.

“Kalau irigasi lancar biayanya lebih ringan. Tapi saat kemarau, karena air tidak sampai, biaya bisa naik cukup tinggi,” katanya.

Aryudin menyebut kondisi tersebut berdampak terhadap lahan pertanian sekitar 27 hektare. Jika kebutuhan air tidak terpenuhi, pertumbuhan tanaman dikhawatirkan terganggu.

Para petani berharap pemerintah segera turun tangan melakukan perbaikan dan normalisasi saluran irigasi agar pengairan kembali berjalan baik, terutama saat musim kemarau.

“Kami berharap ada perhatian pemerintah supaya irigasi kembali normal dan petani tidak kesulitan mendapatkan air,” pungkasnya. (Johan)