KAB.CIREBON, (FC).- Jauh sebelum istilah ubi bombing mencuat dan menjadi sorotan nasional, seorang warga Kabupaten Cirebon ternyata telah lebih dulu mengembangkan inovasi pemadam api berbahan dasar kulit singkong.

Adalah Aryanto Misel (71), inovator asal Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, yang sejak awal tahun 2000-an mengolah limbah kulit singkong menjadi bahan pemadam api. Inovasi tersebut kemudian dikembangkan dalam bentuk bola maupun tabung dengan nama Annaro Fire Stop.

Di tangan Aryanto, kulit singkong yang selama ini dianggap sebagai limbah tak bernilai diubah menjadi produk yang mampu membantu memadamkan api.

Salah satu bentuknya berupa bola pemadam berlapis styrofoam yang akan pecah ketika terkena api dan menyebarkan serbuk pemadam.

Dalam sebuah demonstrasi, bola tersebut dilemparkan ke dalam tong yang sedang terbakar. Hanya dalam hitungan detik, bola pecah dan serbuk di dalamnya menyebar hingga api berhasil padam.

“Itu sebetulnya dibungkus dengan styrofoam. Di dalamnya ada serbuk yang terbuat dari kulit singkong,” ujar Aryanto saat ditemui, Kamis (27/8).

Menurut pria kelahiran 30 Agustus 1955 itu, kulit singkong memiliki kandungan kalium sitrat atau potasium sitrat yang menjadi salah satu bahan dalam formulasi pemadam api buatannya.

Aryanto menjelaskan, mekanisme bola pemadam tersebut dirancang agar dapat menyebarkan serbuk secara cepat ketika terkena panas. Di dalam bola terdapat pemicu yang berfungsi memecahkan wadah sehingga serbuk bisa menjangkau sumber api.

“Kenapa dilempar bisa langsung pecah dalam hitungan delapan detik? Karena di dalam styrofoam ada pemicu yang ketika terkena api akan bekerja. Fungsinya untuk memecahkan dan menyebarkan serbuk, bukan sebagai bahan utama pemadam,” jelasnya.

Putus Reaksi Pembakaran

Aryanto menyebut, cara kerja pemadam berbahan kulit singkong miliknya berbeda dengan anggapan umum bahwa api dipadamkan hanya dengan menutup suplai oksigen.

Menurutnya, bahan tersebut bekerja dengan memutus mata rantai reaksi pembakaran.

“Kerjanya bukan untuk menutup oksigen, tetapi memutus mata rantai reaksi pembakaran,” katanya.

Selain model bola, Aryanto juga mengembangkan pemadam api dalam bentuk tabung seperti alat pemadam api ringan (APAR). Dalam model tersebut, serbuk kulit singkong dimasukkan ke dalam tabung dan diberi tekanan menggunakan nitrogen.

“Kalau tabung, serbuk kulit singkong diberi tekanan nitrogen, bukan oksigen. Karena oksigen masih mengandung air sehingga bisa membuat serbuk menggumpal,” ujarnya.

Dikembangkan Sejak Tahun 2000-an

Aryanto menegaskan, inovasi pemadam api berbahan kulit singkong bukanlah produk baru. Penelitian dan pengembangannya telah dilakukan sejak awal tahun 2000-an.

Ia bahkan mengaku resep inovasinya pernah dibeli oleh pihak Jepang sekitar tahun 2010 setelah dirinya memperkenalkan produk tersebut saat berada di Bali.

“Begitu saya cerita kepada orang Jepang, akhirnya resep itu dibeli dan diproduksi di Jepang,” katanya.

Meski demikian, Aryanto menyebut dirinya tetap mendapatkan izin untuk kembali memproduksi inovasi tersebut secara mandiri.

Dalam perjalanan produksinya, pemadam api berbahan kulit singkong itu pernah mendapat pesanan hingga 1.000 unit. Jumlah tersebut terdiri dari 500 bola pemadam dan 500 tabung.

“Pesanan terbesar 1.000 unit. Sebanyak 500 bola dan 500 tabung dikirim ke Jakarta, bahkan sampai ke Sumatra,” ungkapnya.

Namun hingga kini, produksi Annaro Fire Stop masih dilakukan dalam skala industri rumah tangga di kediamannya.

90 Persen Berbahan Kulit Singkong

Aryanto menjelaskan, sebagian besar bahan utama produk tersebut berasal dari ekstrak kulit singkong.

“Kurang lebih 90 persen dari serbuk ekstrak kulit singkong. Sisanya bahan pendukung seperti antigumpal dan katalis,” katanya.

Khusus model bola, terdapat tambahan komponen pemicu untuk membantu penyebaran serbuk saat terkena api.

Menurutnya, seluruh bahan yang digunakan bersifat ramah lingkungan. Bahkan sisa serbuk pemadam masih dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik.

“Hasil sisa serbuknya bagus untuk tanaman. Bisa dijadikan pupuk organik dan menyuburkan tanaman,” ujarnya.

Pernah Dipaparkan kepada Prabowo

Munculnya pembahasan ubi bombing oleh Presiden Prabowo Subianto membuat Aryanto kembali mengenang perjalanan inovasinya.

Ia mengaku Presiden Prabowo sebelumnya sudah pernah mengetahui produk pemadam api berbahan kulit singkong miliknya saat dirinya melakukan pemaparan dalam sebuah kegiatan yang dihadiri Prabowo.

“Saya pernah menjelaskan produk ini, termasuk bahwa bahan di dalamnya berasal dari kulit singkong,” katanya.

Aryanto menduga, karena kesibukan Presiden Prabowo, inovasi tersebut mungkin tidak lagi diingat.

Berharap Kulit Singkong Tak Lagi Jadi Limbah

Aryanto berharap pemanfaatan kulit singkong dapat dikembangkan lebih luas, terutama di daerah-daerah penghasil singkong yang selama ini menghasilkan limbah dalam jumlah besar.

Menurutnya, kulit singkong yang biasanya hanya dibuang sebenarnya memiliki nilai manfaat tinggi apabila diolah dengan tepat.

“Daripada kulit singkong menumpuk seperti gunungan dan tidak dimanfaatkan, sebenarnya bisa dibuat sesuatu yang berguna,” ujarnya.

Meski telah dikembangkan puluhan tahun, Aryanto mengaku produk tersebut belum digunakan secara resmi oleh pemerintah daerah.

“Belum digunakan pemerintah daerah. Selama ini yang tahu datang sendiri untuk membeli,” katanya.

Ia berharap munculnya perhatian nasional terhadap pemanfaatan bahan berbasis singkong dapat membuka peluang agar inovasinya semakin dikenal.

Namun, Aryanto menegaskan, produk Annaro Fire Stop miliknya tidak serta-merta sama dengan konsep ubi bombing yang kini dibicarakan pemerintah. Keduanya sama-sama memanfaatkan bahan berbasis singkong, tetapi tetap membutuhkan kajian dan pembuktian teknologi lebih lanjut.

Bagi Aryanto, perjalanan panjangnya membuktikan bahwa limbah kulit singkong yang selama ini dipandang sebelah mata dapat diubah menjadi inovasi bernilai tinggi. (Ghofar)