KUNINGAN, (FC).- Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan mengambil langkah cepat dan terukur untuk melindungi pertanaman padi dari ancaman organisme pengganggu tanaman (OPT).

Pada Rabu (21/1), Diskatan menggelar Gerakan Pengendalian OPT (Gerdal OPT) secara serentak di tujuh lokasi berbeda sebagai bentuk pengamanan produksi pangan berbasis wilayah.

Gerakan serentak tersebut dilakukan menyusul meningkatnya potensi serangan hama dan penyakit tanaman padi di sejumlah sentra pertanian.

Diskatan menilai, pengendalian dini dan terpadu menjadi kunci untuk mencegah kerugian petani sekaligus menjaga stabilitas produksi padi daerah.

Salah satu kegiatan utama dipimpin langsung Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, yakni pengendalian hama tikus di Desa Salareuma, Kecamatan Cipicung, pada areal persawahan seluas sekitar 10 hektare.

Kegiatan tersebut melibatkan UPTD Brigade Proteksi, UPTD KPP Cipicung, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta petani dari Kelompok Tani Gempol I.

Dalam keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa pengendalian hama tikus tidak dapat dilakukan secara sporadis atau mengandalkan satu metode saja.

Ia menekankan pentingnya pengendalian yang dilakukan secara serentak, terpadu, dan berkelanjutan dengan melibatkan seluruh petani dalam satu hamparan.

“Kalau pengendalian dilakukan sendiri-sendiri, hasilnya tidak maksimal. Kuncinya adalah kebersamaan petani, dilakukan sejak pra tanam hingga awal pertanaman, dengan fokus utama pada pencegahan,” ujar Wahyu.

Ia menjelaskan, Diskatan mendorong penerapan berbagai metode pengendalian sesuai prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian mekanis dilakukan melalui gropyokan serentak, pemasangan perangkap, serta perusakan sarang tikus.

Sementara pengendalian kultur teknis diterapkan melalui tanam padi serempak, pembersihan pematang dan saluran irigasi, serta pengelolaan sisa jerami agar tidak menjadi habitat hama.

Selain itu, Diskatan juga mengembangkan pengendalian biologis dengan memanfaatkan musuh alami, salah satunya burung hantu melalui pembangunan rubuha.

Penggunaan rodentisida kimia hanya dilakukan secara terbatas, selektif, dan hati-hati, khususnya pada kondisi serangan berat.

“Pendekatan yang kami dorong adalah kombinasi berbagai metode yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ini penting agar pengendalian efektif tanpa merusak ekosistem,” tegasnya.

Selain pengendalian hama tikus di Kecamatan Cipicung, pada hari yang sama Diskatan Kabupaten Kuningan juga melaksanakan enam kegiatan Gerdal OPT lainnya.

Kegiatan tersebut meliputi pengendalian penyakit blas dan BLB, serta hama penggerek batang padi (PBP) di Kecamatan Karangkancana, Ciwaru, Hantara, Luragung, Cibingbin, dan Cibeureum dengan total luasan puluhan hektare lahan pertanian.

Seluruh kegiatan dikoordinasikan oleh Kepala UPTD Brigade Proteksi bersama jajaran teknis, POPT, UPTD KPP sesuai wilayah, serta petani setempat.

Menurut Wahyu, pelaksanaan Gerdal OPT secara serentak terbukti lebih efektif dalam menekan perkembangan hama dan penyakit tanaman, sekaligus meminimalkan risiko kerusakan berat hingga puso.

“Pengendalian serentak membuat siklus hama terputus. Ini berdampak langsung pada stabilitas produksi dan ketenangan petani dalam mengelola lahannya,” katanya.

Di sela kegiatan, Kepala Diskatan juga berdialog langsung dengan para petani untuk menyerap kondisi lapangan, mendengarkan kendala yang dihadapi, serta memberikan penguatan agar petani tetap waspada dan optimistis menjaga pertanaman padi.

Melalui rangkaian Gerdal OPT yang digelar secara serentak ini, Diskatan Kabupaten Kuningan berharap sinergi antara pemerintah daerah, petugas teknis, dan petani semakin solid, sehingga ancaman OPT dapat ditekan dan produktivitas pertanian daerah tetap terjaga secara berkelanjutan. (Angga)