MAJALENGKA, (FC).– Musim kemarau yang berkepanjangan mulai memukul sektor pertanian di Kabupaten Majalengka.

Ratusan hektare sawah di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, terancam gagal panen akibat kekurangan pasokan air. Tak hanya itu, puluhan hektare tanaman padi yang sudah siap dipanen juga hangus dilalap api di tengah teriknya cuaca.

Hamparan sawah yang sebelumnya menghijau kini berubah kecokelatan. Bulir padi mengering sebelum sempat dipanen karena selama dua bulan terakhir petani tidak lagi mendapatkan pasokan air untuk mengairi lahan mereka.

Nasib lebih tragis dialami Dede, seorang petani asal Desa Mekarjaya. Saat tengah memanen padi seorang diri, ia dikejutkan dengan munculnya kepulan asap dari bagian depan sawahnya. Dalam hitungan menit, api membesar dan merambat cepat ke seluruh hamparan padi yang sudah mengering.

Dede mengaku sempat panik dan berteriak meminta pertolongan. Namun, karena tidak ada warga di sekitar lokasi dan tidak tersedia peralatan pemadam, kobaran api tidak mampu dihentikan.

Akibatnya, sekitar 100 bata tanaman padi miliknya ludes terbakar. Peristiwa itu membuatnya mengalami kerugian yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.

“Saya kaget, begitu kepulan asap muncul secara tiba tiba di hamparan sawah milik saya. Ga tahu dari mana asal usul api tersebut,” ujar Dede, Jumat (31/7).

Selain ancaman kebakaran, petani di Desa Mekarjaya juga harus menghadapi kekeringan yang menyebabkan tanaman padi mati sebelum masa panen. Kondisi ini dipicu mengeringnya sumber air dari Situ Cijingga yang selama ini menjadi andalan irigasi pertanian.

Petani setempat, Casmita, mengatakan kekeringan sudah berlangsung sekitar dua bulan. Akibat tidak adanya pasokan air, tanaman padi mengering dan tidak lagi dapat diselamatkan.

Menurutnya, sedikitnya 200 hektare sawah di Desa Mekarjaya kini terancam gagal panen. Jika kondisi tersebut terus berlanjut, kerugian petani diperkirakan akan semakin besar dan berdampak pada produksi pangan di wilayah tersebut.

“Saya harap pemerintah harus pro aktif mengatasi kekeringan pertanian, karena kejadian serupa ini hampir bisa dipastikan setiap tahun. Namun tahun ini kekeringan sangat parah, hujan sudah tidak turun sejak akhir april kemarin,” ujar Casmita.

Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui Dinas Pertanian segera mengambil langkah penanganan, mulai dari penyediaan pasokan air darurat hingga solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan yang terus berulang setiap musim kemarau.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata dampak cuaca ekstrem yang tidak hanya mengeringkan lahan pertanian, tetapi juga meningkatkan risiko kebakaran di area persawahan yang dipenuhi tanaman padi kering menjelang panen. Tanpa penanganan cepat, ratusan hektare sawah di kawasan tersebut terancam mengalami gagal panen secara menyeluruh. (Munadi)