Petani Biyawak Gelar Syukuran Panen, 200 Hektare Sawah Selamat dari Ancaman Kekeringan
MAJALENGKA, (FC).– Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti areal persawahan Desa Biyawak, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Senin (3/8). Setelah tiga bulan menanti sejak masa tanam dan sempat dihantui ancaman gagal panen akibat krisis air, para petani akhirnya menggelar syukuran menjelang masa panen.
Syukuran tersebut menjadi ungkapan rasa lega para petani setelah sekitar 200 hektare sawah yang sebelumnya terancam mengering akhirnya berhasil diselamatkan. Sebulan lalu, para petani di Desa Biyawak dilanda kecemasan karena pasokan air irigasi tidak mencukupi sehingga tanaman padi terancam puso atau gagal panen.
Dalam syukuran yang digelar di tengah hamparan sawah, para petani bersama tokoh masyarakat dan pemerintah desa memanjatkan doa sebagai bentuk rasa terima kasih karena tanaman padi yang semula mengering kini siap dipanen.
Keberhasilan menyelamatkan ratusan hektare sawah itu tidak lepas dari upaya bersama berbagai pihak. Air dialirkan melalui sodetan dari Bendung Rentang menuju Sungai Kamun, kemudian dipompa ke lahan pertanian yang mengalami kekeringan. Solusi tersebut mampu memenuhi kebutuhan air bagi sawah yang sebelumnya nyaris gagal panen.
Padahal, satu bulan lalu kondisi di Desa Biyawak sangat memprihatinkan. Retakan tanah mulai terlihat di sejumlah petak sawah, sementara tanaman padi mengalami kekurangan air akibat musim kemarau yang berkepanjangan.
Melalui sinergi antara Pemerintah Desa Biyawak, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), serta kelompok tani, solusi penyelamatan lahan pertanian akhirnya dapat dilakukan. Pemanfaatan sodetan dari Bendung Rentang yang dialirkan ke Sungai Cipelang menjadi sumber air alternatif untuk mengairi lahan-lahan pertanian.
Kepala Desa Biyawak, Warjum, mengatakan perjuangan mencari sumber air berlangsung lebih dari satu bulan. Berkat kerja sama seluruh pihak, sekitar 200 hektare sawah akhirnya berhasil diairi sehingga tanaman padi dapat diselamatkan hingga memasuki masa panen.
“Awalnya petani sangat khawatir karena sawah mengalami kekeringan. Alhamdulillah berkat kerja sama pemerintah desa, BBWS, penyuluh pertanian, dan para petani, sekitar 200 hektare sawah berhasil diselamatkan dan kini siap dipanen,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPP Kecamatan Jatitujuh, Wahyudin, menjelaskan bahwa dampak kekeringan di wilayahnya masih cukup luas. Berdasarkan pendataan, sekitar 39 hektare sawah dipastikan mengalami puso atau gagal panen, sedangkan sekitar 1.111 hektare lainnya masih terdampak kekeringan dengan tingkat kekurangan air yang bervariasi.
Menurutnya, berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan potensi gagal panen, salah satunya dengan memanfaatkan sodetan air dari Sungai Cipelang melalui Bendung Rentang sebagai sumber irigasi alternatif.
Pemerintah Kabupaten Majalengka melalui Dinas Pertanian juga terus berupaya menyelamatkan lahan pertanian yang terdampak kekeringan dengan memperluas pemanfaatan sumber air alternatif agar semakin banyak sawah yang dapat dipertahankan hingga masa panen. (Munadi)


Tinggalkan Balasan