Ribuan Warga Berebut Air Balong Kramat, Kayu Pusaka Muludan Tuk Diangkat
KAB.CIREBON, (FC).- Ribuan warga memadati Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Rabu (2/9).
Mereka menyaksikan prosesi sakral pengangkatan Buyut Kayu Perbatang yang menjadi puncak tradisi Muludan Tuk.
Kayu pusaka yang selama hampir satu tahun terendam di dalam balong diangkat oleh para keturunan Pangeran Mancur Jaya setelah diawali doa bersama, lantunan adzan, dan ikamah.
Momen munculnya kayu dari permukaan air langsung disambut antusias warga. Sejumlah masyarakat berusaha mendekat untuk menyentuh kayu maupun mengambil air balong yang dipercaya membawa keberkahan.
Juru Kunci Situs Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya, Raden Suparja, mengatakan tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap leluhur yang terus dijaga masyarakat secara turun-temurun.
“Sebagian masyarakat mengambil berkah dari air balong. Ada yang berharap sawahnya subur, ada juga yang menjadikannya ikhtiar ketika ada keluarga yang sakit,” ujarnya.
Usai diangkat, kayu pusaka kemudian dibawa menuju tempat penjamasan. Kayu tersebut ditutup kain batik, ditaburi bunga, serta didoakan bersama oleh masyarakat dan keturunan Pangeran Mancur Jaya.
Menurut Suparja, kayu pusaka tersebut akan kembali diturunkan ke dalam balong pada malam hari melalui prosesi adat yang sama.
Sebelumnya, kayu disemayamkan di depan rumah Mbah Kuwu untuk mendapat penghormatan melalui tradisi sekar dan ngarwah.
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, Buyut Kayu Perbatang merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana yang kemudian ditemukan kembali oleh Pangeran Mancur Jaya.
Kayu tersebut diyakini berkaitan dengan asal mula munculnya mata air yang membentuk Balong Tuk.
“Tradisi ini sudah berlangsung sejak 1965 dan setiap tahun dilaksanakan pada tanggal 19 Mulud atau Sangalase,” katanya.
Selain prosesi pengangkatan kayu pusaka, rangkaian Muludan Tuk juga diisi dengan arak-arakan pusaka, festival budaya, doa bersama, serta kegiatan ekonomi masyarakat melalui bazar UMKM.
Bagi masyarakat Kertawinangun, Muludan Tuk bukan hanya ritual adat, tetapi menjadi upaya menjaga warisan sejarah, mempererat kebersamaan warga, serta mempertahankan identitas budaya Cirebon agar tetap lestari. (Johan)



Tinggalkan Balasan