KAB.CIREBON, (FC).- Petani Desa Jungjang Wetan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, menghadapi persoalan serius saat memasuki musim tanam kedua.

Sulitnya mendapatkan pasokan air membuat biaya produksi pertanian meningkat akibat tingginya biaya pengairan.

Untuk memenuhi kebutuhan air sawah, petani terpaksa menyewa mesin pompa milik perorangan dengan tarif mencapai Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per jam. Dalam sehari, biaya pengairan yang harus dikeluarkan petani bahkan dapat mencapai sekitar Rp1 juta.

Kuwu Desa Jungjang Wetan, Jahuri, mengatakan kondisi tersebut terjadi karena sistem irigasi yang ada belum mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian, terutama saat musim kemarau tiba.

Menurutnya, sebagian besar wilayah pertanian di desanya masih bergantung pada sawah tadah hujan. Saat musim penghujan, petani justru menghadapi kelebihan air, namun ketika kemarau tiba mereka kesulitan mendapatkan pasokan.

“Ini sangat vital untuk penanggulangan lahan pertanian Desa Jungjang Wetan. Kalau dilihat dari irigasi memang tidak cukup. Wilayah kami juga banyak sawah tadah hujan. Saat musim rendeng kelebihan air, tetapi ketika kemarau tidak ada air,” ujar Jahuri, Rabu (12/8).

Melihat kondisi tersebut, pemerintah desa telah mengusulkan bantuan irigasi perpompaan (Irpom) kepada Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon. Bantuan tersebut dinilai menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan air bagi para petani.

Jahuri menjelaskan, potensi penerapan Irpom di Jungjang Wetan sangat besar karena sebagian lahan pertanian berada dekat dengan aliran sungai, mulai dari Sungai Pembuangan Winong hingga wilayah Gandasari.

“Warga Jungjang Wetan sangat membutuhkan Irpom. Sawah dari Sungai Pembuangan Winong sampai Gandasari berada di pinggir kali, sehingga sangat mendukung jika ada bantuan tersebut,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi dan merealisasikan bantuan Irpom. Sebab, kondisi di lapangan menunjukkan petani harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan air.

“Jangan hanya berdasarkan informasi, silakan kontrol langsung ke lokasi. Petani di sini memang mengeluarkan modal besar untuk mengairi sawah. Kalau Irpom direalisasikan, biaya petani bisa dipangkas,” ungkapnya.

Jahuri menambahkan, pemerintah desa siap mendukung operasional Irpom apabila bantuan tersebut terealisasi. Salah satunya melalui dukungan kebutuhan bahan bakar atau sumber listrik agar tidak membebani kelompok tani.

“Kalau ada lima kelompok yang mendapatkan manfaat, pemerintah desa bisa membantu kebutuhan solar atau listrik untuk operasional Irpom. Jadi petani tidak terlalu terbebani biaya bahan bakar,” jelasnya.

Ia menyebutkan, luas hamparan sawah di Desa Jungjang Wetan mencapai sekitar 120 hektare. Dengan luas lahan tersebut, keberadaan Irpom dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.

Salah seorang petani, Suwandi, mengungkapkan, kondisi saluran irigasi yang ada saat ini belum mampu mengalirkan air hingga ke lahan pertanian warga.

“Di sini tidak ada air dan tidak ada saluran yang bisa mengalirkan air sampai ke sawah. Sumber air memang ada, tetapi tidak bisa langsung sampai ke sini. Harus menggunakan pompa besar,” ujarnya.

Ia berharap bantuan Irpom dapat segera direalisasikan agar persoalan pengairan yang selama ini menjadi kendala utama petani dapat segera teratasi.

“Solusinya memang Irpom. Kalau Pak Kuwu sudah mengajukan, kami berharap secepatnya bisa direalisasikan. Itu yang menjadi keresahan seluruh petani di sini,” pungkasnya. (Johan)