MAJALENGKA, (FC).— Sebanyak 535 peserta dari sekitar 13 kabupaten/kota mengikuti kompetisi panahan tradisional Jabar Series Musim 2 Tahun 2026 di Kabupaten Majalengka. Ajang ini menjadi wadah pembinaan sekaligus penjaringan atlet potensial untuk dipersiapkan menuju kejuaraan tingkat nasional.

Ajang yang digelar di Lapangan Toserba UD Putra TS, Majalengka, Minggu (18/10) tersebut, diikuti lebih dari 120 klub. Peserta berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari pelajar SD, SMP, dan SMA hingga kategori umum.

Ketua Pelaksana Jabar Series Musim 2, Rasita Rahamatullah, mengatakan jumlah peserta tahun ini menjadi yang terbanyak sepanjang penyelenggaraan kompetisi tersebut. Lonjakan itu menunjukkan semakin luasnya jangkauan kegiatan sekaligus meningkatnya minat terhadap panahan tradisional.

“Biasanya peserta paling banyak sekitar 300 sampai 350 orang. Sekarang mencapai lebih dari 500 peserta. Ini luar biasa,” ujar Rasita.

Menurut dia, Jabar Series merupakan agenda rutin yang diselenggarakan dalam tiga seri di sejumlah daerah setiap tahun. Kompetisi ini sebelumnya dikenal dengan nama Horse Series, dengan cakupan peserta yang masih terbatas di wilayah Cirebon, Majalengka, dan Kuningan.

Sejak 2025, cakupan kompetisi diperluas dengan menggunakan nama Jabar Series. Jangkauannya kini meliputi sekitar 13 kabupaten/kota di Jawa Barat.

Bahkan, berdasarkan informasi panitia, peserta dari DKI Jakarta turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Besarnya jumlah peserta membuat panitia membagi pertandingan menjadi dua hari. Pada hari pertama, lomba diperuntukkan bagi kategori SD kelas 1–3, SD kelas 4–6, serta kategori umum putra dan putri.

Sementara itu, hari berikutnya dijadwalkan untuk kategori SMP, SMA, dan longbow. Pembagian jadwal tersebut dilakukan untuk menjaga efektivitas pertandingan dan mengurangi waktu tunggu peserta, terutama saat pengumuman hasil perlombaan.

Panitia juga memanfaatkan aplikasi pengolahan data agar hasil setiap kategori dapat diumumkan lebih cepat setelah pertandingan selesai.

Dari sisi teknis, penyelenggaraan kompetisi melibatkan wasit bersertifikat dengan pembagian tugas sesuai bidang masing-masing. Evaluasi rutin juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan dari tahun ke tahun.

Rasita menjelaskan, Jabar Series tidak hanya menjadi ajang perebutan prestasi, tetapi juga sarana mengukur kemampuan atlet dan menjaring bibit-bibit potensial yang dapat dipersiapkan untuk mewakili Jawa Barat di kompetisi yang lebih tinggi.

Atlet berprestasi berpeluang mendapatkan tiket menuju kejuaraan lanjutan, termasuk Kejuaraan Nasional (Kejurnas) dan Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas). Adapun Fornas berikutnya direncanakan berlangsung pada 2027, meski jadwal pastinya belum ditentukan.

“Kalau sudah membawa nama provinsi, yang kita gaungkan adalah Jawa Barat. Karena itu, atlet harus benar-benar diuji dan dipertandingkan untuk melihat siapa yang terbaik,” katanya.

Ia menegaskan, proses seleksi melalui kompetisi penting untuk memastikan atlet yang mewakili Jawa Barat memiliki kemampuan dan kualitas yang sesuai. Dengan pembinaan berjenjang, ia optimistis semakin banyak atlet panahan tradisional yang mampu bersaing di tingkat nasional. Meski demikian, pelaksanaan Jabar Series saat ini masih mengandalkan swadaya peserta.

Dukungan pendanaan melalui Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Jawa Barat belum diperoleh karena organisasi panahan yang menaungi kegiatan tersebut masih berupaya memenuhi persyaratan untuk menjadi anggota tetap.

Rasita berharap dukungan pemerintah melalui Komite Olah Raga Masyarakat Indonesia (KORMI) dapat membantu pembiayaan atlet ketika mengikuti kejuaraan tingkat lebih tinggi. Namun, bantuan tersebut bersifat subsidi sehingga belum tentu menanggung seluruh kebutuhan atlet.

Di sisi lain, ia menilai panahan tradisional memiliki peluang berkembang lebih luas karena relatif terjangkau dan diminati anak-anak usia sekolah. Selain biaya peralatan dan penyelenggaraan yang relatif murah, olahraga ini memiliki variasi teknik yang memungkinkan atlet menyesuaikan cara membidik dan menarik busur dengan kemampuan serta kenyamanan masing-masing.

“Panahan tradisional cukup mudah diterima masyarakat. Peralatannya terjangkau, penyelenggaraan event-nya relatif murah, dan anak-anak di sekolah ternyata sangat menyukainya,” ujar Rasita.

Melalui Jabar Series, ia berharap pembinaan atlet dapat berlangsung lebih terarah sehingga semakin banyak talenta muda yang berkembang dan berpeluang mengukir prestasi di tingkat nasional. (Munadi)