JAKARTA, (FC).- Deflasi yang terjadi 5 bulan terakhir, sebagaimana rilis BPS, memunculkan pertanyaan berbagai pihak.

Deflasi secara beruntun itu dikait-kaitkan dengan apakah ini pertanda menurunnya daya beli di masyarakat?

Terkait deflasi ini juga ditanyakan oleh Sekjen Kemendagri saat memimpin Rakor Pengendalian Inflasi Daerah, Rabu (2/10).

“Penurunan atau deflasi atau angka inflasi yang turun itu apakah berkaitan atau tidak berkaitan dengan daya beli masyarakat?,” kata Sekjen, dikutip FC dari chanel Youtube Kemendagri pada Kamis (3/10)

Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti menjawab, butuh pendalaman lebih lanjut untuk bisa menyimpulkannya.

“Yang perlu saya garis bawahi, deflasi ini sebenarnya tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator untuk menyimpulkan penurunan daya beli masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, perlu menelaah lebih lanjut berbagai faktor yang mempengaruhi penurunan daya beli masyarakat.

“Perlu studi lebih lanjut apakah ini ada indikasi penurunan daya beli masyarakat, perlu kita telaah lebih dalam,” kata Amalia

Dirinya meminta untuk bersama-sama lebih mencermati dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

“Yang jelas kalau kita lihat dari data yang kami rekam, deflasi ini karena mayoritas dikontribusikan oleh penurunan harga pangan bergejolak,” tegas Plt Kepala BPS.

Adapun komoditas yang dominan memberikan andil deflasi adalah cabe merah, cabe rawit, telor ayam ras, daging ayam ras dan tomat. (Andriyana)