Anak Kuningan Rajut Toleransi Lewat Gerakan “Rukun Sama Teman”
KUNINGAN, (FC).- Pesan toleransi dan persahabatan digaungkan ratusan anak dalam peringatan Hari Anak Merdeka 2026 di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, Rabu (19/8).
Melalui gerakan “Rukun Sama Teman”, anak-anak diajak memahami bahwa keberagaman bukan penghalang untuk berteman dan tumbuh bersama.
Sebanyak 500 anak dari 35 sekolah di Kabupaten Kuningan mengikuti kegiatan yang dikemas dengan berbagai aktivitas seni, permainan interaktif, edukasi, hingga unjuk kreativitas.
Suasana penuh keceriaan mewarnai kegiatan yang juga menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut.
Kegiatan itu merupakan kolaborasi Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP) bersama Yayasan Trimulya Triwikrama, dengan dukungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Pemerintah Kabupaten Kuningan, serta sejumlah pihak lainnya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Atip Latipulhayat, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar, jajaran Forkopimda, tokoh agama, tokoh adat, pendidik, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya.
Ketua Panitia sekaligus Kepala SMP Tri Mulya, Susilawati, mengatakan Cigugur dipilih sebagai lokasi kegiatan karena memiliki kekayaan keberagaman agama, budaya, dan tradisi yang menjadi contoh kehidupan harmonis di masyarakat.
“Rukun bukan sekadar hidup tanpa pertengkaran. Rukun adalah kemampuan untuk saling menghormati perbedaan, saling mendengar, saling menolong, dan tumbuh bersama tanpa kehilangan jati diri masing-masing,” ujarnya.
Menurut Susilawati, anak-anak perlu mendapatkan pengalaman langsung bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh. Melalui interaksi bersama, mereka dibiasakan membangun pertemanan tanpa melihat latar belakang.
Ketua ICRP Chandra Setiawan menegaskan, Hari Anak Merdeka bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa masa depan bangsa harus dimulai dari anak-anak yang merasa aman, dihargai, dan mampu hidup berdampingan.
“Anak-anak adalah cermin peradaban. Jika kita ingin melihat Indonesia yang damai, inklusif, dan penuh toleransi di masa depan, kita harus membangun dari sekarang di tengah mereka,” katanya.
Berbeda dengan kegiatan perlombaan pada umumnya, kegiatan tersebut tidak berorientasi mencari juara. Anak-anak diberikan ruang untuk menampilkan kreativitas dan potensi masing-masing.
Beragam karya dan pertunjukan ditampilkan, mulai dari robotik, pengolahan makanan, membatik, pembuatan wayang padi, permainan kecapi hingga berbagai pertunjukan seni.
Dalam kegiatan tersebut juga diluncurkan Deklarasi “Rukun Sama Teman” serta inisiatif Kampung Rukun Sama Teman di Cigugur sebagai komitmen memperkuat nilai persahabatan, gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, anak-anak bukan hanya penerus pembangunan, tetapi pemilik masa depan bangsa.
“Anak-anak bukan hanya sekadar penerus pembangunan, tetapi anak-anak adalah pemilik dan pewaris masa depan,” tegas Dian.
Ia menilai tema “Rukun Sama Teman” memiliki pesan penting dalam memahami makna kemerdekaan. Menurutnya, kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, empati, dan penghormatan terhadap hak orang lain.
“Rukun sama teman mengajarkan bahwa kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa memperhatikan orang lain. Kemerdekaan harus berjalan bersama tanggung jawab, toleransi, empati, dan saling menghargai,” tuturnya.
Dian juga meminta orang tua dan guru ikut berperan dalam membangun karakter anak. Menurutnya, pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga bagaimana menciptakan manusia yang memiliki karakter kuat.
“Membangun hari ini tidak hanya berbicara tentang jalan, bangunan, atau data statistik, tetapi yang paling penting adalah membangun manusia dan karakter,” katanya.
Sementara itu, Wamendikdasmen Atip Latipulhayat mengajak anak-anak menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk membangun kebersamaan.
“Kita tidak perlu menyamakan yang berbeda dan membedakan yang sama, tetapi menyatukan perbedaan itu dalam kebersamaan,” ujarnya.
Atip juga menegaskan bahwa setiap anak memiliki kecerdasan dan keunggulan masing-masing. Karena itu, pendidikan harus mampu menemukan serta mengembangkan potensi setiap anak.
“Tidak ada anak-anak yang bodoh. Semuanya cerdas, hanya berbeda bentuknya,” tegasnya.
Peringatan Hari Anak Merdeka 2026 di Cigugur menjadi momentum bagi anak-anak untuk belajar bahwa keberagaman bukan sekadar sesuatu yang diterima, tetapi kekuatan yang harus dirawat bersama.
Melalui semangat “Rukun Sama Teman”, nilai toleransi, persahabatan, dan gotong royong diharapkan tumbuh sejak dini dan menjadi kebiasaan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari. (Angga)



Tinggalkan Balasan