KUNINGAN, (FC).- Tradisi Kawin Cai di Kabupaten Kuningan mulai dikembangkan menjadi model pelestarian sumber mata air melalui pendekatan riset dan teknologi.

Kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun itu diharapkan tidak hanya bertahan sebagai tradisi budaya, tetapi juga berkontribusi terhadap konservasi lingkungan dan ketahanan air.

Pengembangan tersebut mendapat dukungan Wakil Bupati Kuningan, Tuti Andriani atau Amih Tuti, saat menghadiri kegiatan Pengembangan Model Living Lab Tirta Pawitan di Aula Balai Desa Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, Sabtu (31/10).

Amih Tuti mengatakan, Kawin Cai bukan sekadar ritual budaya, melainkan mengandung nilai kearifan lokal tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam dan melindungi sumber mata air sebagai penopang kehidupan masyarakat.

“Tradisi Kawin Cai harus terus kita rawat dan lestarikan. Di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan pentingnya menjaga alam, merawat lingkungan, serta melindungi sumber mata air,” ujarnya.

Menurutnya, pengembangan Living Lab Tirta Pawitan menjadi langkah untuk menghubungkan nilai-nilai tradisi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan pendekatan tersebut, kearifan lokal diharapkan dapat diterapkan secara lebih terarah dalam upaya konservasi sumber mata air.

Program bertajuk Living Lab Sumber Mata Air dari Tradisi Kawin Cai untuk Konservasi dan Ketahanan Air itu melibatkan Universitas Teknologi Bandung (UTB), Universitas Kuningan (Uniku), serta Yayasan Kibar Budaya Nusantara.

Kolaborasi tersebut diharapkan menghasilkan inovasi pelestarian mata air melalui penelitian yang melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat.

Amih Tuti berharap, hasil penelitian tidak berhenti sebagai kajian akademik, tetapi dapat diterapkan langsung untuk menjaga ketersediaan air bersih dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merawat sumber mata air.

“Menjaga dan merawat alam adalah tanggung jawab kita bersama. Perhatian dari sisi akademik dan riset ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjadi pesan penting bagi generasi muda tentang pentingnya melestarikan lingkungan,” katanya.

Selain pengembangan model Living Lab, kegiatan tersebut diisi forum diskusi kelompok terarah (FGD) serta pelatihan pemeliharaan sumber mata air. Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ade Kadarisman dari Staf Kepresidenan, Kepala Bappeda, Kepala DPMD, perwakilan Dinas PUTR, Dinas Lingkungan Hidup, Disdikbud, Sekretaris Badan Kesbangpol, Camat Jalaksana, serta para kepala desa se-Kecamatan Jalaksana.

Melalui Living Lab Tirta Pawitan, Pemkab Kuningan berharap tradisi Kawin Cai dapat menjadi salah satu model konservasi berbasis kearifan lokal.

Dengan demikian, pelestarian budaya sekaligus perlindungan sumber mata air dapat berjalan beriringan demi menjaga ketersediaan air bagi generasi mendatang.(Angga)