KAB. CIREBON, (FC).- Satlantas Polresta Cirebon mengimbau pengendara menghindari jalur Pantura dari Ramayana Plered hingga SPBU Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, pada Minggu (1/11).

Imbauan tersebut disampaikan menyusul pelaksanaan tradisi Memayu Buyut Trusmi yang berpotensi memicu kepadatan lalu lintas mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB.

Kasat Lantas Polresta Cirebon, AKP Yudha Satyo Rahardjo, mengatakan pengendara perlu mengantisipasi kepadatan di sepanjang ruas jalan yang terdampak kegiatan adat tahunan tersebut.

Jalur yang perlu dihindari meliputi kawasan Ramayana Plered, Jalan Otto Iskandardinata, Jalan Raya Panembahan, hingga SPBU Tengah Tani.

“Pengendara roda empat disarankan menggunakan jalur tol, sedangkan jalur melalui Sumber juga dapat menjadi alternatif perjalanan,” ujar Yudha, Kamis (29/10).

Ia meminta pengguna jalan memperhatikan pengaturan lalu lintas dan mematuhi arahan petugas di lapangan. Pengendara juga diimbau mengikuti pengalihan arus apabila diberlakukan selama kegiatan berlangsung.

Informasi terkini mengenai kondisi lalu lintas dan pengaturan kendaraan dapat dipantau melalui media sosial resmi Satlantas Polresta Cirebon, yakni Instagram @satlantaspolrestacirebon, X @TMCPolrestaCrb, Facebook Min Sangkan, dan TikTok @satlantaspolrestacrb.

Memayu Buyut Trusmi merupakan tradisi adat tahunan yang berpusat di Kompleks Keramat Buyut Trusmi, Desa Trusmi Wetan, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon.

Tradisi ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat setempat yang dipertahankan secara turun-temurun.

Salah satu prosesi utamanya adalah memayu atau mengganti atap bangunan makam menggunakan anyaman alang-alang yang dikenal sebagai welit. Prosesi tersebut dilakukan oleh juru kunci bersama para kemit atau penjaga kompleks keramat.

Rangkaian kegiatan juga diwarnai Ider-ideran, yakni arak-arakan budaya yang dapat melibatkan benda pusaka, sesepuh adat, pertunjukan seni tradisional, batik khas Trusmi, hingga hasil bumi.

Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut tidak hanya menjadi ritual adat, tetapi juga bentuk pelestarian warisan leluhur, ungkapan rasa syukur, serta doa memohon keselamatan.

Dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat yang hendak melintasi kawasan Plered, Weru, hingga Tengah Tani diharapkan merencanakan perjalanan lebih awal dan memilih jalur alternatif untuk menghindari kepadatan. (Johan)